Jumat, 19 Juni 2009

SUKU BUNGA BANK INDONESIA SUKU BUNGA SBI

Grafik Timeseries


Dikeluarkan Tanggal : 12/31/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.08 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/24/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.24 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/17/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.25 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/10/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.24 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/5/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.25 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/4/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.50 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/26/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.49 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/19/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.49 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/12/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.49 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/6/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.16 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/29/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.00 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/22/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 10.94 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/15/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.90 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/24/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.82 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/17/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.85 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/10/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.78 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/4/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.74 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/27/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.73 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/20/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.73 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/13/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.71 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/6/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.74 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/29/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.71 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/23/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.52 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/16/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.47 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/9/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.40 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/2/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.20 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/25/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.15 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/18/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.12 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/11/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.53 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/4/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.44 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/27/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.35 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/21/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.29 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/14/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.26 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/7/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.04 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/30/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.04 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/23/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.04 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/16/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.04 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/9/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.03 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/2/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.04 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/26/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.03 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/12/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.02 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/5/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.00 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/27/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.99 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/20/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.98 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/13/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.89 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/6/2008
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.83 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/9/2007
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.10 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/7/2007
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.50 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/8/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.36 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/9/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.15 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/10/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.64 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/5/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.73 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/1/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.92 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/8/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.91 %

Dikeluarkan Tanggal : 1/4/2006
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.83 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/30/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.69 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/9/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.09 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/5/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.25 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/31/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.54 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/3/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.45 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/6/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.05 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/1/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.81 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/4/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.51 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/6/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.31 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/2/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.27 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/2/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.30 %

Dikeluarkan Tanggal : 1/5/2005
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.29 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/8/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.30 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/3/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.30 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/6/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.31 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/1/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.31 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/4/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.29 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/7/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.25 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/2/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.24 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/5/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.25 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/7/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.32 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/3/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 7.70 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/4/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.15 %

Dikeluarkan Tanggal : 1/7/2004
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.34 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/3/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.38 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/5/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.43 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/8/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 8.75 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/3/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.06 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/6/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 9.17 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/9/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 10.18 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/4/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 10.88 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/7/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.29 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/9/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 11.96 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/5/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.68 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/5/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 12.93 %

Dikeluarkan Tanggal : 1/8/2003
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.11 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/3/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.12 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/6/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.12 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/9/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 14.11 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/5/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 14.92 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/7/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 15.00 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/10/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 15.00 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/10/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 15.17 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/5/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 16.29 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/8/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 16.74 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/10/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 16.88 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/6/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.01 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/6/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.43 %

Dikeluarkan Tanggal : 1/9/2002
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.63 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/5/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.62 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/7/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.61 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/10/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.56 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/5/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 17.03 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/8/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 16.96 %

Dikeluarkan Tanggal : 7/11/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 16.28 %

Dikeluarkan Tanggal : 6/6/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 15.80 %

Dikeluarkan Tanggal : 5/9/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 15.80 %

Dikeluarkan Tanggal : 4/11/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 14.94 %

Dikeluarkan Tanggal : 3/7/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 14.84 %

Dikeluarkan Tanggal : 2/7/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 14.79 %

Dikeluarkan Tanggal : 1/10/2001
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 14.31 %

Dikeluarkan Tanggal : 12/6/2000
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.83 %

Dikeluarkan Tanggal : 11/8/2000
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.56 %

Dikeluarkan Tanggal : 10/11/2000
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.32 %

Dikeluarkan Tanggal : 9/6/2000
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.29 %

Dikeluarkan Tanggal : 8/9/2000
Jangka Waktu Suku Bunga
3 Bulan 13.04 %

Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas? Oleh: Mudrajad Kuncoro*)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2007 tumbuh 6% dibanding periode sama 2006 (yoy). Dibanding triwulan sebelumnya (q-to-q), pertumbuhan ekonomi ini hanya meningkat 2%.Pertanyaan mendasar yang menarik untuk diajukan adalah apakah ada perubahan mendasar pola pertumbuhan ekonomi dilihat dari dimensi sektoral, pengeluaran, spasial, dan distribusi ‘kue nasional’ tersebut? Apakah pertumbuhan ekonomi sebesar itu berarti semakin berkualitas?
Dari dimensi sektoral, pertumbuhan ekonomi kali ini ditopang oleh beberapa sektor kunci. Rekor paling tinggi berturut-turut adalah sektor pertanian (16,8%), sektor jasa-jasa (2,1%), sektor keuangan-real estat-jasa perusahaan (1%), sektor perdagangan-hotel restoran (0,9%), dan sektor listrik-gas-air bersih (0,6%). Tingginya kenaikan sektor pertanian besar kemungkinan karena kuatnya pengaruh musim panen, sebagaimana tercermin dari kenaikan pada subsektor tanaman bahan makanan sebesar 56,1%. Data kuartalan selama tiga tahun terakhir menunjukkan besarnya fluktuasi pertumbuhan sektor pertanian yang berkisar antara negatif 21,7% hingga positif 19,6%. Namun, perlu dicatat, selama 2004-2006 sektor pertanian hanya menyumbang produk domestik bruto (PDB) sebesar 12-15%. Sejak 1993, sumbangan sektor pertanian tidak pernah melebihi sektor industri manufaktur. Pada saat krisis ekonomi 1998, sektor pertanian hanya berperan 17,4% terhadap PDB, sementara ekspansi pada hampir semua komoditas industri menyebabkan industri manufaktur menyumbang 23,9% terhadap PDB.
Sumbangan sektor industri jauh lebih tinggi dibanding sektor pertanian. Selama 2004-2006, sektor industri menyumbang sekitar 27-28% terhadap PDB. Volatitas pertumbuhan sektor industri pun jauh lebih kecil dibanding sektor pertanian. Data kuartalan selama tiga tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan industri antara negatif 0,04% hingga positif 3,6%. Sejak krisis, pertumbuhan sektor industri memang relatif rendah hanya berkisar antara 3,5% hingga 7,7%. Padahal sebelum krisis, industri manufaktur mampu tumbuh dengan dua digit, yaitu rata-rata sekitar 11% selama 1974-1997.
Dari dimensi pengeluaran, seluruh komponen penggunaan pada triwulan I 2007 dibandingkan triwulan yang sama tahun 2006 (yoy) meningkat. Pengeluaran konsumsi rumah tangga naik sebesar 4,5%, pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 4,3%, pembentukan modal tetap bruto sebesar 7,5%, ekspor barang-jasa sebesar 8,9%, dan impor barang dan jasa sebesar 8,4%.
Kendati terlihat kenaikan, tidak banyak perubahan dilihat dari kontribusi masing-masing pengeluaran terhadap PDB. Konsumsi tetap mendominasi, diikuti ekspor, impor, dan pembentukan modal tetap bruto. Konsumsi pemerintah meningkat cukup tinggi akibat serangkaian stimulus fiskal, sementara konsumsi swasta masih tumbuh lambat akibat lemahnya daya beli masyarakat pasca kenaikan harga BBM Oktober 2005. Dengan kata lain, pola pertumbuhan ekonomi Indonesia belum banyak berubah, masih berciri consumption driven growth, bukan investment led growth sebagaimana diajarkan oleh teori makro.
Dari dimensi spasial, pulau Jawa tetap merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan PDB Indonesia triwulan I 2007 (60,2%). PDB Pulau Jawa didominasi secara berurutan oleh sektor industri pengolahan, perdagangan-hotel-restoran dan sektor pertanian. Dominasi sebagian besar aktivitas industri manufaktur modern, terutama skala besar dan sedang, di Indonesia terus berlangsung di pulau Jawa dan Sumatra selama 1976-2006. Jawa dan Sumatra menyerap lebih dari 93% tenaga kerja di sektor industri Indonesia selama periode tersebut.
Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2006 menggarisbawahi bahwa wilayah Jakarta-Banten, Jabalnusra (Jawa Bali Nusa Tenggara), dan Sumatra umumnya tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional dan Kali-Sulampua (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua). Dengan kata lain, grativasi ekonomi Indonesia masih bias ke Kawasan Barat Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi diharapkan mendorong perbaikan pendapatan per kapita dan distribusi pendapatan. Kenyataannya, dilihat dari dimensi distribusi, memang PDB per kapita Indonesia pada tahun 2006 memang meningkat menjadi US$1.663, namun ketimpangan distribusi pendapatan juga meningkat.
Ketimpangan yang meningkat diukur dengan beberapa cara. Pertama, rasio gini yang meningkat dari 0,29 pada 2002 menjadi 0,35 pada 2006. Angka rasio gini yang semakin meningkat berarti terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang makin lebar. Kedua, kue nasional yang dinikmati oleh kelompok 40% penduduk termiskin mengalami penurunan dari 20,92 tahun 2002 menjadi 19,2 pada tahun 2006.
Ironisnya, penurunan kue nasional yang dinikmati kelompok 40% penduduk termiskin justru diikuti oleh kenaikan kue nasional yang dinikmati oleh 20% kelompok terkaya dari 44,7% menjadi 45,7% pada tahun yang sama. Singkatnya, ada indikasi kuat adanya trickle up effect, efek muncrat ke atas, dalam proses pembangunan di Indonesia.
Kesimpulannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh dari berkualitas. Ini lah tantangan terbesar tim ekonomi dalam kabinet saat ini. Kendati Presiden SBY telah melakukan resuffle kabinet secara terbatas, jajaran tim ekonomi dalam kabinet tidak banyak mengalami perubahan mendasar. Artinya, para menteri terkait masih dianggap kompeten dan memiliki visi serta strategi yang jelas dalam menyelesaikan masalah ekonomi Indonesia.
Padahal, dengan data-data dan fakta di atas agaknya pembangunan ekonomi kita sudah terbukti ‘salah arah’, aspasial, bias ke kawasan barat Indonesia, dan hanya menguntungkan kelompok kaya di negeri ini. Dengan sisa waktu sekitar 2,5 tahun, mampukah Presiden SBY dan kabinetnya melakukan perubahan mendasar? Bersama kita bisa sejahtera atau menderita bersama? Semoga perubahan yang dijanjikan tidak hanya sekedar mitos.

Minggu, 07 Juni 2009

fotoku.........



the seminal long-run empirical research on the monetary approach to the balance of payments with a comprehensive reference guide

Karya ini menyediakan tinjauan dari mani jangka panjang penelitian empiris moneter pada pendekatan keseimbangan pembayaran dengan panduan komprehensif untuk referensi sastra. The paper reviews the three major alternative theories of balance of payments adjustments. Karya ulasan tiga besar teori alternatif dari penyesuaian neraca pembayaran. These theories are the elasticities and absorption approaches (associated with Keynesian theory), and the monetary approach. Teori ini adalah elasticities dan penyerapan pendekatan (terkait dengan teori Keynesian), dan pendekatan moneter. In the elasticities and absorption approaches the focus of attention is on the trade balance with unemployed resources. Dalam pendekatan dan penyerapan elasticities fokus dari perhatian pada neraca perdagangan dengan sumber daya menganggur. In the monetary approach, on the other hand, the focus of attention is on the balance of payments (or the money account) with full employment. Dalam pendekatan moneter, di sisi lain, fokus dari perhatian pada neraca pembayaran (atau uang rekening) penuh dengan pekerjaan. The monetary approach emphasizes the role of the demand for and supply of money in the economy. Pendekatan moneter menekankan peran kebutuhan dan suplai uang dalam perekonomian. The paper focuses on the monetary approach to balance of payments and reviews the seminal long-run empirical work on the monetary approach to balance of payments. Karya berfokus pada pendekatan moneter untuk neraca pembayaran dan mengkaji mani jangka panjang empiris bekerja pada pendekatan moneter untuk neraca pembayaran. Throughout, the paper provides a comprehensive set of references corresponding to each point discussed. Sepanjang, karya yang komprehensif menyediakan kumpulan referensi sesuai untuk masing-masing titik dibahas. Together, these references exhaust the existing long-run research on the monetary approach to balance of payments. Bersama-sama, ini referensi knalpot yang ada dalam jangka panjang penelitian mengenai pendekatan moneter untuk neraca pembayaran.

INTRODUCTION PENDAHULUAN

This paper provides a review of the seminal long-run empirical research on the monetary approach to the balance of payments with a comprehensive reference guide to the literature. Karya ini menyediakan tinjauan dari mani jangka panjang penelitian empiris moneter pada pendekatan keseimbangan pembayaran dengan panduan komprehensif untuk referensi sastra. The paper reviews the three major alternative theories of balance of payments adjustments. Karya ulasan tiga besar teori alternatif dari penyesuaian neraca pembayaran. These theories are the elasticities and absorption approaches (associated with Keynesian theory), and the monetary approach. Teori ini adalah elasticities dan penyerapan pendekatan (terkait dengan teori Keynesian), dan pendekatan moneter. In the elasticities and absorption approaches the focus of attention is on the trade balance with unemployed resources. Dalam pendekatan dan penyerapan elasticities fokus dari perhatian pada neraca perdagangan dengan sumber daya menganggur. The elasticities approach emphasizes the role of the relative prices (or exchange rate) in balance of payments adjustments by considering imports and exports as being dependent on relative prices (through the exchange rate). Elasticities pendekatan yang menekankan peran serta harga yang relatif (atau kurs) dalam neraca pembayaran penyesuaian dengan mempertimbangkan impor dan ekspor karena tergantung pada harga relatif (melalui nilai tukar). The absorption approach emphasizes the role of income (or expenditure) in balance of payments adjustments by considering the change in expenditure relative to income resulting from a change in exports and/or imports. Penyerapan pendekatan yang menekankan peran pendapatan (atau pengeluaran) dalam neraca pembayaran penyesuaian dengan mempertimbangkan perubahan dalam pengeluaran dengan pendapatan yang dihasilkan dari perubahan ekspor dan / atau impor. In the monetary approach, on the other hand, the focus of attention is on the balance of payments (or the money account) with full employment. Dalam pendekatan moneter, di sisi lain, fokus dari perhatian pada neraca pembayaran (atau uang rekening) penuh dengan pekerjaan. The monetary approach emphasizes the role of the demand for and supply of money in the economy. Pendekatan moneter menekankan peran kebutuhan dan suplai uang dalam perekonomian. The paper focuses on the monetary approach to balance of payments and reviews the seminal long-run empirical work on the monetary approach to balance of payments. Karya berfokus pada pendekatan moneter untuk neraca pembayaran dan mengkaji mani jangka panjang empiris bekerja pada pendekatan moneter untuk neraca pembayaran. Throughout, the paper provides a comprehensive set of references corresponding to each point discussed. Sepanjang, karya yang komprehensif menyediakan kumpulan referensi sesuai untuk masing-masing titik dibahas. Together, these references exhaust the existing long-run research on the monetary approach to balance of payments. Bersama-sama, ini referensi knalpot yang ada dalam jangka panjang penelitian mengenai pendekatan moneter untuk neraca pembayaran.

This study is organized in the following way: First it reviews three alternative theories of balance of payments adjustments. Studi ini disusun sebagai berikut: Pertama ia meninjau tiga alternatif dari teori keseimbangan pembayaran penyesuaian. They are the elasticities and absorption approaches (associated with Keynesian theory), and the monetary approach. Mereka adalah elasticities dan penyerapan pendekatan (terkait dengan teori Keynesian), dan pendekatan moneter. Then, the seminal long-run empirical work on the monetary approach is reviewed. Setelah itu, mani jangka panjang empiris bekerja pada pendekatan moneter dikaji. It notes that the literature may be divided into two classes, long run (associated with Johnson) and short run (associated with Prais). Ada catatan bahwa sastra dapat dibagi menjadi dua kelas, jangka panjang (terkait dengan Johnson) dan menjalankan singkat (yang terkait dengan Prais). Then, the review focuses on the seminal long-run literature. Kemudian, tinjauan berfokus pada jangka panjang mani sastra. The theoretical model is described first, and then the estimated results are reported. Teori model yang dijelaskan terlebih dahulu, kemudian hasil perkiraan dilaporkan. At the end of the discussion, some of the shortcomings of the long-run approach and possible ways to reduce these shortcomings are pointed out. Pada akhir diskusi, beberapa kekurangan dari pendekatan jangka panjang dan kemungkinan cara untuk mengurangi kelemahan tersebut adalah yang keluar.

DIFFERENT APPROACHES TO THE BALANCE OF PAYMENT ANALYSIS THE DIFFERENT pendekatan NERACA PEMBAYARAN DARI ANALISIS

Three alternative theories of balance of payments adjustment are briefly reviewed in this section. Tiga alternatif dari teori keseimbangan pembayaran penyesuaian yang sebentar dibahas dalam bagian ini. They are commonly known as the elasticities, absorption, and monetary approaches. Mereka biasanya dikenal sebagai elasticities, penyerapan, dan pendekatan moneter. Ardalan (2003) provides a more complete review of these three theories and reviews the short-run empirical work on the monetary approach to balance of payments. Ardalan (2003) memberikan ulasan yang lebih lengkap dari tiga teori dan ulasan singkat berjalan-empiris bekerja pada pendekatan moneter untuk neraca pembayaran. The current paper avoids repeating the references which already appear in Ardalan (2003). Kertas yang sekarang untuk menghindari pengulangan yang referensi yang sudah muncul di Ardalan (2003).

The elasticities approach applies the Marshallian analysis of elasticities of supply and demand for individual commodities to the analysis of exports and imports as a whole. Elasticities pendekatan yang berlaku pada Marshallian analisis elasticities dari penawaran dan permintaan untuk masing-masing komoditas untuk analisis ekspor dan impor secara keseluruhan. It is spelled out by Joan Robinson (1950). Ianya dibilang oleh Joan Robinson (1950).

Robinson was mainly concerned with the conditions under which devaluation of a currency would lead to an improvement in the balance of trade. Robinson terutama prihatin dengan kondisi di mana devaluasi mata uang yang akan mengakibatkan perbaikan dalam neraca perdagangan. Suppose the trade balance equation is written as: Misalnya neraca perdagangan equation ditulis sebagai:

X = value of exports X = nilai ekspor

IM = value of imports Instan = nilai impor

BT = balance of trade BT = neraca perdagangan

BT = X--IM (1) BT = X - instan (1)

In this context, it is generally assumed that exports depend on the price of exports, and imports depend on the price of imports. Dalam konteks ini, secara umum diasumsikan bahwa ekspor tergantung pada harga ekspor dan impor tergantung pada harga impor. These relations are then translated into elasticities, by differentiating the above equation with respect to the exchange rate. Hubungan ini kemudian diterjemahkan ke dalam elasticities, oleh differentiating equation di atas sehubungan dengan nilai tukar. A criterion for a change of the balance of trade in the desired direction can be established, assuming that export and import prices adjust to equate the demand for and supply of exports and imports. J kriteria untuk perubahan keseimbangan perdagangan ke arah yang dikehendaki dapat dibuat, dengan asumsi bahwa ekspor dan impor untuk menyamakan harga menyesuaikan kebutuhan dan pasokan dari ekspor dan impor.

The effect of a devaluation on the trade balance depends on four elasticities: the foreign elasticity of demand for exports, and the home elasticity of supply, the foreign elasticity of supply of imports, and the home elasticity of demand for imports. Efek dari devaluasi pada neraca perdagangan tergantung pada empat elasticities: asing dari elastisitas permintaan ekspor, dan rumah dari elastisitas suplai, elastisitas asing dari pasokan impor, dan rumah dari elastisitas permintaan terhadap impor. For the special case where it is assumed that the trade balance is initially zero and that the two supply schedules are infinitely elastic, the elasticities condition for the impact of a devaluation to be an improvement in the trade balance, is that the sum of the demand elasticities exceed unity. Untuk kasus khusus dimana diasumsikan bahwa perdagangan saldo awalnya nol dan bahwa pasokan dua jadwal yang sangat jauh lebih elastis, dengan syarat untuk elasticities dampak dari devaluasi menjadi perbaikan dalam neraca perdagangan, adalah bahwa jumlah permintaan elasticities melebihi kesatuan. This has been termed the "Marshall-Lerner condition." Ini telah diistilahkan dengan "Marshall-Lerner kondisi."

A notable shortcoming of the elasticities analysis is its neglect of capital flows. J terkemuka kekurangan dari analisis elasticities adalah lalai modal mengalir. Even though the adherents of the elasticities approach were attempting to guide the policy-maker in improving the country's balance of payments, their focus, nevertheless, was on the balance of trade (net exports of goods and services). Walaupun penganutnya dari elasticities pendekatan yang mencoba untuk memandu kebijakan-jalan di negara meningkatkan keseimbangan pembayaran, fokus mereka, bagaimanapun, adalah pada neraca perdagangan (net ekspor barang dan jasa).

The absorption approach was first presented by Alexander (1952). Penyerapan pendekatan yang pertama kali disajikan oleh Alexander (1952). He sought to look at the balance of trade from the point of view of national income accounting: Ia berusaha untuk melihat neraca perdagangan dari sudut pandang pendapatan nasional akuntansi:

Y = domestic production of goods and services Y = produksi dalam negeri barang dan jasa

E = domestic absorption of goods and services, or domestic total expenditure E = domestik penyerapan barang dan jasa, atau total pengeluaran domestik

BT = balance of trade BT = neraca perdagangan

BT = Y - E (2) BT = Y - E (2)

The above identity is useful in pointing out that an improvement in the balance of trade calls for an increase in production relative to absorption. Di atas adalah identitas yang berguna dalam menunjukkan bahwa perbaikan dalam neraca perdagangan panggilan untuk peningkatan produksi relatif terhadap penyerapan.

When unemployed resources exist, the following mechanism is visualized: the effect of a devaluation is to increase exports and decrease imports. Ketika sumber daya menganggur ada, berikut ini adalah mekanisme visualized: efek dari devaluasi adalah untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. This in turn causes an increase in production (income) through the multiplier mechanism. Ini pada gilirannya menyebabkan peningkatan produksi (pendapatan) melalui mekanisme kelipatan. If total expenditure rises by a smaller amount, there will be an improvement in the balance of trade. Jika total pengeluaran meningkat oleh jumlah yang lebih kecil, akan ada perbaikan dalam neraca perdagangan. Thus, the balance is set to be identical with the real hoarding of the economy, which is the difference between total production and total absorption of goods and services, and therefore equal to the accumulation of securities and/or money balances. Dengan demikian, keseimbangan diatur menjadi identik dengan penimbunan nyata dari ekonomi, yang merupakan selisih antara total produksi dan total penyerapan barang dan jasa, dan karenanya sama dengan akumulasi dari sekuritas dan / atau saldo uang. In the presence of unemployment, therefore, devaluation not only aids the balance of payments, but also helps the economy move towards full employment and is, therefore, doubly attractive. Di hadapan pengangguran, karena itu, tidak hanya devaluasi bantu keseimbangan pembayaran, tetapi juga membantu perekonomian bergerak menuju pekerjaan penuh dan karena itu, sangat penting menarik.

The absorption approach can be said to work only in the presence of unemployed resources. Penyerapan pendekatan yang dapat dikatakan hanya untuk bekerja di hadapan sumber daya menganggur. The absorption approach is a significant improvement over the elasticities approach in one important sense, this is its view of the external balance via national income accounting. Pendekatan yang penyerapan adalah perbaikan yang signifikan atas elasticities satu pendekatan dalam arti penting, ini adalah pandangan yang eksternal melalui keseimbangan pendapatan nasional akuntansi. In this manner, the approach relates the balance to the happenings elsewhere in the economy rather than taking the partial equilibrium view of the elasticities approach in analyzing the external sector in isolation. Dengan cara ini, pendekatan yang berkaitan dengan hal ihwal keseimbangan dalam perekonomian di tempat lain daripada mengambil sebagian keseimbangan melihat dari pendekatan elasticities dalam menganalisis sektor eksternal dalam isolasi.

The elasticities and absorption approaches are concerned with the balance of trade while the monetary approach concerns itself with the deficit on monetary account. The elasticities dan penyerapan pendekatan prihatin dengan neraca perdagangan sementara pendekatan moneter keprihatinan sendiri dengan defisit pada rekening moneter. In principle, this balance consists of the items that affect the domestic monetary base. Pada prinsipnya, saldo ini terdiri dari item yang akan mempengaruhi moneter domestik dasar.

The monetary approach, like the absorption approach, stresses the need for reducing domestic expenditure relative to income, in order to eliminate a deficit in the balance of payments. Pendekatan moneter, seperti penyerapan pendekatan, menekankan perlunya untuk mengurangi pengeluaran domestik relatif terhadap pendapatan, untuk menghilangkan defisit dalam neraca pembayaran. However, whereas the absorption approach looks at the relationship between real output and expenditure on goods, the monetary approach concentrates on deficient or excess nominal demand for goods and securities, and the resulting accumulation or decumulation of money. Namun, sedangkan pendekatan penyerapan melihat hubungan antara hasil nyata dan pengeluaran untuk barang, moneter pendekatan berkonsentrasi pada nominal kurang atau kelebihan permintaan barang dan surat berharga, dan hasil akumulasi atau decumulation uang.

The monetary approach looks at the balance of payments as the change in the monetary base less the change in the domestic component: Pendekatan moneter yang terlihat di neraca pembayaran sebagai perubahan pada basis moneter kurang perubahan di dalam negeri komponen:

H = change in the quantity of money demanded H = perubahan jumlah uang yang diminta

D = domestic credit creation D = domestik kredit penciptaan

BP = DH - DD (3) BP = DH - DD (3)

where the "italic D," ie, D, appearing in front of a variable designates the "change" in that variable. dimana "italic D", yakni, D, muncul di depan variabel yang designates "perubahan" dalam variabel. That is, D is the first difference operator: DX = [X.sub.(t)] - [X.sub.(t-1)]. Itulah sebabnya, D adalah yang pertama perbedaan operator: DX = [X.sub. (T)] - [X.sub. (T-1)].

Putting just monetary assets rather than all assets "below the line" contributes to the simplicity of the monetary approach. Puting hanya moneter aset daripada semua aset "di bawah garis" kontribusi kepada kesederhanaan dari pendekatan moneter. Other things being equal, growth in demand for money, and of factors that affect it positively should lead to a surplus in the balance of payments. Hal-hal lain yang sama, pertumbuhan permintaan terhadap uang, dan faktor yang mempengaruhi secara positif itu harus mengarah ke dalam surplus neraca pembayaran. Growth in domestic money, other things being equal, should worsen it. Pertumbuhan uang di dalam negeri, hal-hal lain yang sama, ia harus memburuk. Thus, the growth of real output in a country with constant interest rates causes its residents to demand a growing stock of real and nominal cash balances. Oleh karena itu, perkembangan hasil nyata dalam sebuah negara dengan suku bunga konstan menyebabkan para warga untuk permintaan yang terus bertambah dan stok real nominal saldo tunai. This means that the country will run a surplus in the balance of payments. Ini berarti bahwa negara akan berjalan surplus pada neraca pembayaran. In order to avoid a payments surplus, the increase in money must be satisfied through domestic open market operations. Untuk menghindari kelebihan pembayaran, peningkatan uang harus puas domestik melalui operasi pasar terbuka. To produce a deficit, domestic money stock must grow faster than the growth of real income. Untuk menghasilkan defisit, stok uang domestik harus tumbuh lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan riil.

This analysis suggests that if a country is running a deficit, then assuming that the economy is growing at its full-employment growth rate with a given rate of technological progress, it should curtail its rate of domestic monetary expansion. Analisis ini menunjukkan bahwa jika negara defisit berjalan, maka dengan asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi yang penuh dengan pekerjaan tingkat pertumbuhan yang diberikan dengan tingkat kemajuan teknologi, seharusnya mengurangi tingkat domestik dan moneter ekspansi. Use of other measures like the imposition of tariffs, devaluation or deflation of aggregate demand by fiscal policy can succeed only in the short run. Gunakan langkah-langkah lain seperti pengenaan tarif, devaluasi atau deflasi permintaan agregat oleh kebijakan fiskal dapat berhasil hanya dalam jangka pendek.

REVIEW OF THE SEMINAL LONG-RUN EMPIRICAL RESEARCH REVIEW OF THE mani LONG-RUN empiris PENELITIAN

Empirical work on the monetary approach to the balance of payments can be divided into two different approaches; one tests the theory in long-run equilibrium, the other considers the adjustment mechanism and the channels through which equilibrium is reached. Empiris bekerja pada pendekatan moneter untuk neraca pembayaran yang dapat dibagi menjadi dua pendekatan yang berbeda; satu tes teori dalam keseimbangan jangka panjang, yang lain menganggap penyesuaian mekanisme dan saluran yang melalui keseimbangan tercapai. The first approach is based on the reserve flow equation developed by HG Johnson (1972). Pada pendekatan pertama ini didasarkan pada cadangan aliran equation dikembangkan oleh HG Johnson (1972). Testing was undertaken by JR Zecher (1974) and others. Pengujian dilakukan oleh JR Zecher (1974) dan lain-lain. The second... Kedua ...

POSITIONING-DIFFERENTIATION-BRAND

Diera pasar global seperti saat ini, konsumen atau user akan dihadapkan pada banyak pilihan walau untuk satu bentuk kebutuhan saja. Mereka akan berhadapan dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan merek. Apa yang akan terjadi kemudian? Bisa di tebak! Mereka pasti akan memilih pada merek yang telah dikenal atau yang telah direkomendasikan oleh teman, mungkin juga oleh iklan. Oleh karenanya, bagi para pemasar harus merumuskan sesuatu yang membuat para konsumen terpikat mata dan hatinya pada produk yang dijual.
Dalam jangka pendek, hal itu bisa dicapai melalui strategi penjualan seperti direct selling, promosi, ber-iklan, dll. Tapi biasanya hasil dan dampaknya pun pendek. Maka diperlukan sebuah strategi pemasaran yang memiliki dampak lebih panjang. Nah..salah satu strategi itu adalah dengan membangun Positioning – Differentiation – Brand (PDB).
Positioning adalah bagaimana kita mampu secara tepat memposisikan diri (identitas) kita di benak pelanggan atau target pasar. Sedang diferensiasi adalah faktor pembeda yang memperkokoh positioning. Dan branding merupakan upaya kita dalam membangun ekuitas merek secara berkelanjutan.
Keberhasilan menciptakan PDB akan menciptakan brand image pada produk/ jasa secara holistik sekaligus kemampuan untuk menjual dirinya sendiri (self selling) secara berkelanjutan. Lihatlah Coca Cola, Adidas, Nike sebagai contoh. Mereka telah berhasil menancapkan brand positioning-nya di benak konsumen hingga sekarang.
Bagaimana membangun PDB pada produk atau jasa yang kita jual? Berikut penulis paparkan di bawah ini. Tulisan ini merupakan ramuan dari berbagai sumber dan pengalaman penulis bersama Tim Marketing Syafa’at Advertising dalam membangun Syafa’at sebagai perusahaan Advertising Syariah.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi sahabat pembaca, baik para marketer pada umumnya maupun pelaku marketing syariah untuk produk-produk syariahnya. Selamat membaca.
POSITIONING
Positioning is not what you do to a product. Positioning is what you do to the mind of the prospect. That is, you position the product in the mind of the prospect. [Al Ries, Jack Trout]
Dengan kata lain, perang pemasaran bukanlah terletak di pasar, tetapi di benak pelanggan. Perang pemasaran adalah perang untuk memperebutkan sejengkal ruang di benak pelanggan !
Positioning tak lain adalah segala upaya untuk mendesain produk dan merk kita agar dapat menempati sebuah posisi yang unik di benak pelanggan [Philip Kotler]
Berikut beberapa hal dalam menentukan positioning.
a. Empat syarat membangun dan menentukan positioning :
• Customer —- berdasar nilai apa yang bisa diperoleh pelanggan dari produk, merk kita
• Company —- berdasar kekuatan dan kapabilitas perusahaan
• Competitor —- berdasar keunikan yang membedakan dgn pesaing
• Change —- berdasar perubahan yang relevan dgn kondisi lingkungan bisnis
b. Basis/ landasan Penentuan Positioning (pilihan) :
• Proposisi nilai dan manfaat yang perusahaan dapat berikan
• Capaian yang telah dihasilkan perusahaan
• Segmen pasar dan pelanggan yang ditargetkan
• Atribut yang jadi keunggulan produk dan merk perusahaan
• Bisnis baru yang dimasuki
• Originalitas dan posisi sebagai perusahaan atau merk baru di pasar
c. Positioning berdasar 5 dimensi kualitas layanan (pilihan) :
• Reliability —- kompetensi perusahaan
• Assurance —- jaminan tertentu pada pelanggan
• Tangibles
• Emphaty —- memahami kepuasan emosional pelanggan
Cara Menyusun Positioning
• Step 1 : Identifikasi Target
• Step 2 : Menentukan Frame of reference pelanggan — Siapa diri
• Step 3 : Merumuskan point of differentiation — Mengapa konsumen memilih kita
• Step 4 : Menetapkan keunggulan kompetitif produk — bisa dinikmati sbg sesuatu yg beda
Mengkomunikasikan Positioning
• Be creative — kreatif utk mencuri perhatian
• Simplicity — sesederhana dan sejelas mungkin
• Consistent yet flexible — konsisten dan melihat kondisi
• Own, dominate, protect — memiliki satu atau beberapa kata ampuh di benak pelanggan
• User their language — gunakan sejauh mungkin bahasa pelanggan
DIFFERENTIATION
Diferensiasi adalah upaya kita merancang seperangkat perbedaan yang bermakna dalam ‘offering’ kita. “A firm differentiates itself from its competitors if it can be unique at something that is valuable to buyers”, begitu kata Michael Porter.
Basis Diferensiasi
• Product : fitur, performance, desain, dll
• Service : kemudahan, kecepatan, empati, distribusi, delivery t
• Channel : customer service, channel coverage, dll
• People : kapabilitas, skill, budaya kerja, ..
• Image : logo, identitas merk, karakter, celebrity endorser (Philip Kotler)
Syarat Diferensiasi
1. Mampu mendatangkan excellent value ke pelanggan
2. Harus berupa keunggulan dibanding pesaing
3. Memiliki uniqeness, sehingga tidak gampang di tiru
Menjaga Diferensiasi
• Fokus pada core differentiation
• Be consistent
• Evolve your differentiation
BRAND
Merk tidak sekedar sebuah nama. Bukan juga sekedar sebuah logo atau simbol. Tapi merk merupakan cerminan value yang Anda berikan kepada pelanggan. Dan merk merupakan ekuitas perusahaan yang menambah value bagi produk dan jasa yang ditawarkan ke pelanggan (Hermawan K).
Value jika ekuitas merk kuat
• Premium price
• Memberikan peluang untuk perluasan merk
• Menjadi basis bagi terbentuknya loyalitas
• Menjadi komponen keunggulan bersaing yang kuat
Karakteristik dari Merk yang kuat
• Brand awareness (65%)
• The strength of brand positioning, concept, personality, a precise and distinct image (39%)
• The strength of signs recognition (logo, codes, packaging) by the consumers (36%)
• Brand authority with consumers, brand esteem, perceived status of the brand and consumer loyalty (24%)
Referensi
• Al Ries dan Jack Trout, “Positioning: The Battle for Your Mind”, Salemba Empat, Jakarta, 2002
• Hermawan Kartajaya, “Marketing Yourself, Kiat Sukses Meniti Karir dan Bisnis”, MarkPlus&Co, Jakarta, 2004
• Hermawan Kartajaya, “Hermawan Kartajaya Workshop Series. Integrating Sales and Marketing”, Mizan Pustaka, 2006

kotaku..rutengku.....







Perkembangan Nilai Tukar Dolar Terhadap Mata Uang Lain

BI Optimis Nilai Tukar Rupiah Menguat Hingga Akhir Tahun

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis tren nilai tukar rupiah akan menguat hingga akhir tahun ini. Sebab, kurs dolar AS akan cenderung melemah seiring dengan tercapainya keseimbangan baru likuiditas di pasar keuangan global. Berdasar kurs tengah BI, (20/3), rupiah kembali menguat tipis ke level Rp 11.833 per USD dibandingkan sehari sebelumnya Rp 11.900 per USD.
''Dolar kan melemah terhadap mata uang lain. Jadi, itu memperkuat rupiah. Sentimen secara umum bergerak cukup stabil di global dan itu memengaruhi regional dan kita,'' kata Gubernur BI Boediono seusai salat Jumat di kantornya, (20/3).
Menurut Boediono, dalam jangka menengah kurs dolar AS memang akan terus melemah dibandingkan mata uang lain. Hanya, pelemahan itu belum bisa diprediksi mulai dan sampai kapan. ''Tapi, arahnya ke sana,'' ujarnya.
Pelemahan dolar AS tersebut terjadi karena suplai di pasar global akan melimpah, terutama akibat kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan bank sentral AS. Namun, melimpahnya pasokan dolar AS itu belum bisa efektif.
''Nah, suatu saat akan mengalir masuk kembali ke dalam peredaran. Itu ya nanti saat pelemahan USD terjadi,'' tutur Boediono. Karena itu, dia optimistis nilai tukar rupiah masih bisa menguat melebihi level saat ini.
Optimisme BI ini juga didasarkan pada cadangan devisa yang dinilai masih cukup kuat menopang stabilitas kurs rupiah di pasar. Tambahan pertahanan devisa lapis kedua melalui BSA (Bilateral Swap Arrangement) juga diharapkan bisa membuat nilai tukar rupiah tidak terpuruk lebih dalam.
''Cadangan devisa kita kan sudah bertambah. Jika perlu, bisa kita tambah dari Chiang Mai Initiative - Bilateral Swap Arrangement. Saya optimistis rupiah masih bisa di kisaran sekarang hingga akhir tahun ini,'' kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom.
Berdasar data BI, saat ini jumlah cadangan devisa mencapai USD 53,7 miliar atau jauh lebih tinggi dibandingkan pada 27 Februari lalu sebesar USD 50,564 miliar. Dalam APBN 2009, kurs rupiah diasumsikan Rp 11.000 per USD.
Terpisah, pengamat pasar uang Edwin Sinaga menilai apresiasi rupiah kemarin terjadi setelah The Fed (bak sentral AS) mengumumkan untuk tetap mempertahankan suku bunga di level 0,25 persen. Langkah ini juga didukung rencana The Fed membeli obligasi pemerintah AS USD 1 triliun. Kebijakan tersebut berdampak positif pada nilai tukar mata uang global terhadap dolar AS.
Menurut Edwin, rencana tersebut meningkatkan pasokan dolar AS. ''Dengan membanjirnya cadangan dolar AS di pasar, otomatis dolar AS mengalami tekanan,'' ujarnya, (20/3).
Edwin memerkirakan penguatan rupiah akan terus berlanjut hingga ke level Rp 11.500 per dolar AS. Terutama, didukung komitmen Bank Indonesia untuk tetap mengawasi pergerakan bank-bank asing yang bermain valas.(sof/iw/dwi)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TABUNGAN DAN INVESTASI SWASTA DI INDONESIA PERIODE 1984-2003

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam perekonomian suatu negara, tabungan dan investasi merupakan indikator yang dapat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang (developing countries) termasuk didalamnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, memiliki dana yang cukup besar. Tetapi di sisi lain, usaha pengerahan sumber dana dalam negeri untuk membiayai pembangunan menghadapi kendala dalam pembentukan modal baik yang bersumber dari penerimaan pemerintah yaitu ekspor barang dan jasa ke luar negeri, ataupun penerimaan pemerintah melalui instrumen pajak
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang kemudian menjadi krisis multidimensi berdampak kondisi Indonesia secara umum tidak hanya terhadap sektor ekonomi saja. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sangat tajam, inflasi yang tinggi, menurunnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia, merupakan beberapa akibat dari krisis ekonomi tersebut. Lambat laun, dengan beberapa kali perubahan struktur politik dan penerapan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah, kondisi Indonesia menunjukan perubahan yang lebih baik dan kondisi perekonomian yang stabil.
Di Indonesia, untuk membiayai pembangunan nasional yang mencakup investasi domestik, sumber dananya dapat bersumber dari tabungan nasional dan pinjaman luar negeri. Namun, karena terbatasnya jumlah dana serta pinjaman yang diperoleh dari luar negeri, maka diperlukan tabungan nasional yang lebih tinggi sebagai sumber dana yang utama.
Perlunya tabungan nasional ini dibuktikan dengan adanya saving-investment gap yang semakin melebar dari tahun ke tahun yang menandakan bahwa pertumbuhan investasi domestik melebihi kemampuan dalam mengakumulasi tabungan nasional. Secara umum, usaha pengerahan modal dari masyarakat dapat berupa pengerahan modal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pengklasifikasian ini didasarkan pada sumber modal yang dapat digunakan dalam pembangunan. Pengerahan modal yang bersumber dari dalam negeri berasal dari 3 sumber utama, yaitu : pertama, tabungan sukarela masyarakat. Kedua, tabungan pemerintah, dan ketiga tabungan paksa (forced saving or involuntary saving). Sedangkan modal yang berasal dari luar negeri yaitu melalui pinjaman resmi pemerinyah kepada lembaga-lembaga keuangan internasional seperti International Monetary Fund (IMF), Asian Development Bank (ADB), World Bank, maupun pinjaman resmi bilateral dan multilateral, juga melalui foreign direct investment (FDI).
Hollis Chenery dan beberapa penulis lainnya telah mengenalkan pendekatan ‘dua-jurang’ pada pembangunan ekonomi. Dasar pemikirannya, ‘jurang tabungan’ dan ‘jurang devisa’ merupakan dua kendala yang terpisah dan berdiri sendiri pada pencapaian target tingkat pertumbuhan di negara kurang maju. Chenery melihat bantuan luar negeri sebagai suatu cara untuk menutup kedua jurang tersebut dalam rangka mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan. Sumitro (1994:44) menjelaskan bahwa kekurangan didalam perimbangan antara tabungan nasional dan investasi harus ditutup dengan pemasukan modal dari luar yang berasal dari tabungan oleh kalangan luar negeri.
Pada negara berkembang dan miskin, kondisi yang paling menonjol adalah belum terciptanya kondisi yang mendorong pada iklim dimana kegairahan untuk menabung dan penanaman modal menunjukan tingkat yang menggembirakan. Sistem produksi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat masih menggunakan pola tradisional. Masih terbatasnya sektor modern dan belum berfungsinya secara efektif dan efisien institusi-institusi keuangan yang disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang masih tradisional menyebabkan pengerahan dana dari masyarakat mengalami kesulitan.
Dengan latar belakang ditetapkannya Paket Kebijakan Oktober 1988 atau yang lebih dikenal dengan “PAKTO 88”, yang pokok-pokok kebijakannya berisi antara lain untuk mengerahkan dana dari masyarakat dengan cara memudahkan pembukaan kantor cabang baru, pendirian bank swasta baru, keleluasaan penyelenggaraan tabungan, dan perluasan kantor cabang bank. Setelah adanya “PAKTO 88” ini, semakin mudahlah bank didirikan dan semakin bervariasi juga bentuk-bentuk tabungan yang ditawarkan oleh bank-bank yang sudah terbentuk baik swasta maupun pemerintah. Semenjak saat itu, tabungan nasional mulai meningkat drastis. Dalam tahun-tahun sebelumnya tampak adanya kecenderungan persaingan antar berbagai negara untuk memperbesar arus investasi baik asing maupun domestik. Persaingan terutama terjadi karena kebutuhan dana yang sangat besar dan mendesak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi terutama di negara-negara berkembang.
Indonesia terbuka secara resmi dan efektif terhadap penanaman modal sejak tahun 1967 ketika pemerintah orde baru memberlakukan undang-undang Penanaman Modal Asing yang diikuti dengan undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri tahun 1968. Selanjutnya, Indonesia mengalami periode pasang surut dalam penerimaan arus modal investasi, kebijakan devaluasi rupiah tahun 1983 mempengaruhi tingkat pertumbuhan investasi secara total maupun sektoral. Tahun 1991 ketika terjadi gebrakan Sumarlin II (tight money policy) yaitu kebijakan yang dimaksudkan untuk mengontrol tingkat inflasi, menjaga defisit neraca transaksi berjalan agar tidak melebihi batas yang masih bisa diterima, mengawasi uang luar negeri, serta menjaga performance Indonesia dimata investor. Gebrakan ini secara tidak langsung menurunkan investasi.
Sukses tidaknya suatu negara dalam menarik arus dana investasi tidak terlepas dari berbagai faktor ekonomi dan non ekonomi. Pada dasarnya pemberian fasilitas yang sifatnya mendorong investor untuk berinvestasi seperti pembebasan pajak (tax holiday) dan kemudahan untuk mengakses bahan baku akan sangat efektif bila didukung oleh :
Negara tujuan investasi memiliki keunggulan komparatif ekonomi yang berkaitan dengan faktor-faktor produksi seperti sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terampil dan murah.
Nilai tukar yang relatif stabil, terutama untuk investor yang berorientasi pasar luar negeri
Peraturan devisa di negara bersangkutan tidak menghalangi penanam modal untuk memindahkan kekayaan dan keuntungannya ke luar negeri.
Iklim politik dan keamanan negara cukup menjamin ketentraman hidup dan keamanan usaha serta kekayaan investor.
Iklim usaha yang menunjang dan mendorong penanaman modal.
Infrastruktur yang menunjang dan memadai.
Investasi memegang peranan penting dalam meningkatkan pembangunan nasional dan sebagai salah satu komponen yang berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi.
Dari paparan latar belakang diatas dan berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia, maka penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul :
“ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan
dan Investasi Swasta di Indonesia Periode 1984-2003”.
1.2 Identifikasi Masalah
Penelitian ini akan membatasi permasalahan sesuai dengan paparan diatas, yaitu:
Bagaimanakah pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003?
Bagaimanakah pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003?
Bagaimana pengaruh dari krisis ekonomi tahun 1997 terhadap tingkat tabungan dan investasi swasta di Indonesia periode 1984-2003?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi investasi swasta pada kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang di Indonesia periode 1984-2003.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari krisis ekonomi terhadap tabungan dan investasi swasta di Indonesia periode 1984-2003.
1.4 Kegunaan Penelitian
Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dengan masalah tersebut di atas. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan literatur dan referensi untuk pengembangan selanjutnya dalam cabang ilmu ekonomi makro.
1.5 Kerangka Pemikiran
1.5.1 Tabungan
1.5.1.1 Definisi Tabungan
Tabungan nasional (national saving) dapat didefinisikan sebagai pendapatan total dalam perekonomian yang tersisa setelah dipakai untuk pengeluaran pemerintah dan konsumsi. Dalam suatu negara, investasi domestik dapat dibiayai oleh tabungan nasional dan pinjaman dari luar negeri. Total dana yang tersedia untuk membiayai investasi (I) sama dengan tabungan nasional (S+(T-G)) ditambah dengan pinjaman dari luar negeri (X-M). secara matematis dapat dirumuskan :
I = S + (T-G) + (X-M) …………………………..…….……….(1.1)
Namun untuk mengurangi ketergantungan suatu negara terhadap bantuan dari pihak lain, tabungan nasional diutamakan sebagai sumber pembiayaan investasi domestik. Secara garis besar, tabungan nasional diciptakan oleh tiga pelaku, yaitu pemerintah, perusahaan dan rumah tangga.
Tabungan pemerintah merupakan selisih antara realisasi penerimaan dengan pengeluaran pemerintah. Tabungan perusahaan merupakan kelebihan pendapatan (laba) yang tidak dibagikan kepada pemegang saham yang besarnya dapat diketahui dari neraca perusahaan. Sedangkan tabungan rumah tangga merupakan bagian dari pendapatan yang diterima rumah tangga yang tidak dibelanjakanuntuk keperluan konsumsi. Secara matematis persamaan tabungan dapat dijabarkan sebagai berikut :
Jika tabungan swasta adalah S = (Y-T) – C dan
Tabungan pemerintah adalah (T-G), maka
Tabungan nasional = S + (T-G)
= (Y-T) – C +(T-G)
= Y – C - G ………………………….….……..(1.2)
dimana S adalah tabungan swasta
Y adalah pendapatan aggregat
T adalah pendapatan pajak netto
C adalah konsumsi
G adalah pengeluaran pemerintah
Jika T-G bernilai positif, maka pemerintah akan mengalami budget surplus, dan sektor ini akan ditambahkan pada sektor swasta untuk menambah sumber pembiayaan investasi. Namun jika T-G bernilai negatif berarti pemerintah mengalami budget deficit, dan pemerintah harus meminjam dana dari pihak lain.
1.5.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan
Menurut ekonom klasik, seperti Adam Smith, tabungan merupakan fungsi dari tingkat bunga. Tingkat bunga merupakan pembayaran dari tidak dilakukannya konsumsi, imbalan dari kesediaan untuk menunggu dan tidak dilakukannya konsumsi dan pembayaran atas penggunaan dana. Oleh karena itu, jika tingkat bunga naik, jumlah tabungan juga akan meningkat. Tingkat bunga ditentukan dari titik keseimbangan antara tabungan dan investasi.
Alfred Marshall dari kaum neoklasik mengemukakan bahwa terdapat faktor ekonomi dan non ekonomi yang mempengaruhi tabungan. Diantara faktor-faktor ekonomi tersebut, dia menekankan pada tingkat bunga, walaupun mungkin ada keadaan dimana tetap ada tabungan walaupun tungkat bunga negatif.
Selain tingkat bunga, pendapatan juga dikatakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tabungan nasional. Pendapat tersebut dikemukakan oleh J.M. Keynes dalam teorinya mengenai kecenderungan untuk mengkonsumsi (propensity to consume) yang secara eksplisit menghubungkan antara tabungan dan pendapatan. Keynes menyatakan suatu fungsi konsumsi modern yang didasari oleh perilaku psikologis modern, yaitu apabila terjadi peningkatan pada pendapatan riil, peningkatan tersebut tidak digunakan seluruhnya untuk meningkatlkan konsumsi, tetapi dari sisa pendapatan tersebut juga digunakan untuk menabung, hal ini dapat dijelaskan dalam persamaan berikut :
S ? Y – C ………………………………………………..……….……..(1.3)
C = ? + cY ; ? > 0 ;0 < c <1……………...……..……...…….……(1.4)
Dimana : S = saving
Y = income
? = intercept; tingkat konsumsi ketika pendapatan nol
c = marginal propensity to consume
Jika kedua persamaan (1.3) dan (1.4) atau disebut juga budget constraint tersebut digabungkan, maka akan menjelaskan fungsi persamaan tabungan. Fungsi persamaan tabungan sendiri menjelaskan hubungan tingkat tabungan dan tingkat pendapatan. Dengan mensubstitusi persamaan konsumsi (1.3) dengan persamaan budget constraint (1.4), maka kita akan mendapatkan fungsi persamaan tabungan :
S ? Y – C = Y - ? – cY = - ? + (1-c)Y ………………..……….(1.5)
Dari persamaan (1.5) kita dapat melihat bahwa tabungan memiliki hubungan positif dengan pendapatan karena marginal propensity to save, s =1 – c, adalah positif. Dengan kata lain, tabungan meningkat ketika pendapatan meningkat.
The life-cycle permanent income theory of consumption and saving (Modigliani,1986) menjelaskan tentang pilihan bagaimana memelihara standar hidup yang stabil dalam menghadapi perubahan pendapatan dalam waktu hidup seseorang. Jadi, teori ini menjelaskan hubungan antara pendapatan sepanjang waktu, konsumsi, dan tabungan. The life cycle hypothesis melibatkan individu, untuk merencanakan perilaku konsumsi dan perilaku tabungannya dalam jangka panjang dengan tujuan mengalokasikan konsumsinya dengan cara terbaik untuk seluruh masa hidupnya.
Gambar 1.1 Lifetime Income, Consumption, Saving, and Wealth in the Life-Cycle Model
Keterangan : WR = wealth
YL = annual labor income
C = consumption
WL = working life
NL = number of years of life
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa konsumsi konstan sepanjang waktu. Selama masa kerja (WL tahun), individu menabung dan mengumpulkan aset. Pada akhir masa kerjanya, individu mulai menarik kembali aset-aset tersebut, tidak menabung (dissaving / negative saving) pada masa sisa hidupnya (NL – WL) sehingga aset tersebut akan bernilai nol pada akhir hidupnya.
Menurut teori ‘Ricardian Equivalence’, peningkatan pada defisit anggaran pemerintah akan menstimulasi tabungan swasta karena mereka berekspektasi akan terjadi peningkatan pada kewajiban pajak mereka di masa yang akan dating. Sebagai hasilnya, mereka akan mengurangi tingkat konsumsinya dan meningkatkan tabungan. Tetapi teori ‘Ricardian Equivalence’ tidak dapat digunakan di negara berkembang (Hadjimicheal et al 1995), karena diperlukan adanya eksistensi pasar modal yang efisien, yang jarang ditemui pada karakteristik negara-negara berkembang.
1.5.2 Investasi
1.5.2.1 Definisi Investasi
Investasi adalah pembelian alat-alat modal, persediaan dagang / inventori, dan struktur usaha, termasuk pembelian rumah baru untuk rumah tangga. Investasi dihubungkan dengan sektor bisnis yang ditambahkan kepada persediaan modal fisik. Investasi swasta (private investment) adalah output dari perusahaan yang disimpan untuk perusahaan itu sendiri. Investasi swasta terdiri dari :
Inventory Investment, termasuk didalamnya semua perubahan dalam persediaan bahan baku (raw materials), perlengkapan, dan produk akhir yang dihasilkan oleh perusahaan.
Fixed Investment, termasuk didalamnya semua produk yang dibeli oleh perusahaan yang tidak ditujukan untuk dijual kembali, terdiri dari residential dan nonresidential investment.
1.5.2.2 Determinan Investasi
The accelerator hypothesis of investment menyatakan bahwa tingkat investasi netto (net investment) tergantung kepada perubahan ekspektasi output. Langkah pertama dalam hipotesis ini adalah mengukur penjualan yang diharapkan (expected sales) (Ye) yang diestimasi berdasarkan revisi penjualan tahun sebelumnya (Ye-1) oleh suatu proporsi (j), dari perbedaan antara penjualan tahun sebelumnya (Y-1) dan yang diharapkan, sehingga didapat persamaan:
Ye = Ye-1 + j (Y-1 – Ye-1)
= j Y-1 + (1-j) Ye-1 ………………………………….…………(1.6)
Langkah selanjutnya adalah asumsi dari teori ini bahwa persediaan modal, yaitu bangunan dan perlengkapan, yang dibutuhkan perusahaan (K*) adalah perkalian antara keinginan perusahaan untuk meningkatkan persediaan modalnya (?*) dengan ekpektasi penjualannya:
K* = ?*. Ye ………………………………………….…………..(1.7)
Investasi netto adalah perubahan pada persediaan modal (?K) yang terjadi setiap periode :
In = ?K = K – K-1 …………………………………...…..…….. (1.8)
Asumsi lain adalah bahwa perusahaan berkeinginann untuk meningkatkan persediaan modalnya dalam setiap periode:
In = K – K-1 ……………………………………………………..(1.9)
In = ?* (Ye - Ye-1) = ?*. ? Ye……………………………….……(1.10)
Jadi, jika terjadi akselerasi usaha dalam perusahaan dan ekspektasi output meningkat, investasi netto pun akan meningkat, tetapi jika akselerasinya negatif dan ekspektasi output menurun, investasi pun menurun.
Teori lain mengenai investasi adalah mengenai planned investment spending , yang menjelaskan hubungan antara tingkat suku bunga dan investasi.
Kita dapat menspesifikasi pembelian investasi sebagai :
I = ? – bi ; b > 0 ………………………………...…………..(1.11)
Dimana : I = investasi
? = autonomous investment spending
b = responsiveness of investment spending to interest rate
i = interest rate
Dari gambar berikut ini dapat dilihat bahwa kurva investasi memiliki kemiringan negatif untuk merefleksikan asumsi penurunan tingkat suku bunga akan menyebabkan peningkatan profitabilitas untuk penambahan modal dan akan membawa kepada peningkatan investasi. Posisi dari kurva investasi diatas, sangat dipengaruhi oleh slope dari kurva tersebut atau koefisien b dalam persamaan (1.11).
Gambar 1.2 The Investment schedule
Jika investasi sangat responsif terhadap tingkat suku bunga, penurunan kecil pada tingkat suku bunga akan membawa peningkatan yang besar pada investasi. Perubahan pada koefisien ? akan menggeser kurva rencana investasi. Jika ? meningkat berarti pada setiap tingkatan tingkat suku bunga, perusahaan berusaha untuk berinvestasi pada tingkat yang lebih tinggi dan akan menggeser kurva investasi ke kanan.
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi dengan menganalisis data sekunder kuantitatif tahunan pada rentang waktu antara tahun 1984-2003 dengan pertimbangan ketersediaan data. Data sekunder digunakan karena penelitian yang dilakukan meliputi objek yang bersifat makro dan mudah didapat. Data tersebut diolah kembali oleh penulis sesuai dengan kebutuhan model yang digunakan. Sumber data berasal dari berbagai sumber seperti misalnya Badan Pusat Statistik, Laporan triwulanan/tahunan BI, Badan Koordinasi Penanaman Modal, International Financial Statistics (IFS), Asian Development Bank, World Development Indicators dan lain-lain. Penulis menguji variabel-variabel bebas utama yang memiliki pengaruh kuat terhadap tabungan nasional dan investasi swasta sebagai variabel tidak bebas yang berhubungan dengan model yang digunakan.
Disamping itu penulis melakukan studi literatur untuk mendapatkan teori yang mendukung penelitian. referensi studi kepustakaan diperoleh melalui jurnal, Perpustakaan FE UNPAD, Perpustakaan Pusat UNPAD, dan Perpustakaan Bank Indonesia Bandung dan Jakarta.
1.6.2 Operasionalisasi Variabel
Variabel tak bebas dalam penelitian ini adalah tabungan nasional dan investasi swasta. Sedangkan gross national disposable income (GNDI), tingkat suku bunga (r), tingkat inflasi (lnp), pendapatan riil / Produk Domestik Bruto (Y), dan rasio investasi pemerintah terhadap GDP (GIY) serta dummy variable merupakan variabel-variabel bebasnya.
Berikut adalah penjelasan variabel-variabel bebasnya :
Gross National Disposable Income (gndi)
Adalah pendapatan yang dapat digunakan untuk konsumsi barang dan jasa. Variabel ini diharapkan akan berhubungan positif dengan tabungan nasional. Pendapatan disposibel dapat dirumuskan sebagai :
Yd = Y – T ……………………………………………………(1.12)
Dimana : Yd = pendapatan disposibel
Y = pendapatan nasional
T = pajak
Tingkat suku bunga riil (r)
Merupakan tingkat bunga nominal yang telah dikoreksi terhadap inflasi, dapat dirumuskan sebagai :
Real interest rate = nominal interest rate – inflation ………………………….(1.13)
Tingkat inflasi (lnp)
Data inflasi menggunakan indikator Indeks Harga Konsumen tahunan tahun konstan 2000. Inflasi tahunan dirumuskan dengan :
Tingkat inflasi = IHKt – IHKt-1 X 100 …………………...…….(1.14 IHK t-1
Pendapatan riil (y)
Data pendapatan riil tahunan menggunakan data pendapatan nominal tahunan dibagi dengan PDB deflator tahun konstan 2000 dengan perumusan:
PDB Riil = PDB Nominalt X 100 …………..………………..………(1.15)
PDB Deflatort
Rasio investasi pemerintah terhadap PDB (giy)
Merupakan prosentase perbandingan pengeluaran pemerintah dalam investasi (public investment) terhadap Produk Domestik Bruto.
Dummy variable
Dummy variable adalah metode pengklasifikasian data yang membagi sebuah sampel menjadi beberapa subgrup berdasarkan kualitas atau atribut (jenis kelamin, status perkawinan, dan lain-lain). Dalam penelitian ini dummy variables digunakan sebagai variabel krisis ekonomi dengan nilai D = 0 untuk periode sebelum krisis ekonomi Indonesia dan D = 1 untuk periode setelah krisis ekonomi. Berdasarkan identifikasi di atas maka mulai periode 1998-2003 dummy variable bernilai 1 dikarenakan adanya krisis ekonomi.
1.6.3 Metode Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif, yang akan dijelaskan sebagai berikut :
Kualitatif dilakukan dengan menggunakan beberapa instrumen analisis seperti tabel dan grafik yang dapat mencerminkan uraian analisis penelitian secara teratur dan saling mendukung. Data dari buku teks, jurnal, dan hasil penelitian yang sudah ada dan berkaitan dengan skripsi ini dijadikan dasar bagi analisis deskriptif.
Kuantitatif, dilakukan dengan menggunakan model ekonometrika untuk mencerminkan hasil dari pembahasan yang dinyatakan dalam angka.
Model yang digunakan dalam analisis ini adalah model ekonometrik dengan pendekatan kointegrasi dan model dinamis faktor-faktor utama yang mempengaruhi tabungan nasional dan investasi swasta dengan pendekatan ECM (Error-Correction Model) menggunakan bantuan program Microsoft Excel dan Eviews 3.0. Data yang digunakan adalah data periode tahunan (time series) dengan estimasi model menggunakan Ordinary Least Square (OLS).
Adapun persamaan model kointegrasi sebagai berikut:
Yt = ?0 + ?1 X1 + ?2 X2 +............+ ?n Xn + Ut …………….…………(1.16)
dimana:
Yt = Variabel tidak bebas
X1,2,..,n = Variabel bebas
Ut = Error term
Sedangkan persamaan ECM (Error-Correction Model) adalah sebagai berikut:
rYt = ?0 + ?1rX1+ ? 2rX2+ ……. + ? nrXn + ECTt-1+Ut …….….(1.17)
dimana:
rYt = First difference dari variabel tidak bebas
rX1,2,..,n = First difference dari variabel bebas
ECTt-1 = Error Correction Term
Spesifikasi model dalam penelitian ini merupakan spesifikasi model yang dibuat oleh Ipumbu W. Shiimi dan Gerson Kadhikwa yang meneliti mengenai tabungan dan investasi swasta di Namibia pada periode 1980-1996 dengan menambahkan dummy variable karena krisis ekonomi tahun 1997. Model tabungan yang akan diestimasi dalam penelitian ini adalah :
Ln S = ? + ?1 LnGNDIt + ?2 LnRt + ?3 LnPt + ?4 Dummy + ?t…….…….. (1.18)
Sedangkan model untuk investasi swasta adalah:
Ln I = ? + ?1 LnYt + ?2 LnPt + ?3 LnRt + ?4 LnGIYt + ?5 Dummy + ?t ….....(1.19)
Teori tentang kointegrasi ditandai dengan memasukkan error-correction (EC) term . EC term lagged periode (ECt-1) menggabungkan pergerakan short-run dan long-run pada fungsi tabungan nasional dan investasi swasta.
Sehingga model persamaan yang kita butuhkan secara spesifik menjadi general error correction model (ECM) :
Fungsi tabungan
?Ln S =? + ?1 ?LnGNDIt + ?2 ?LnRt + ?3 ?LnPt + ?4 ECTt-1 + ?5 D + ?t ………………….………………………………………………………….….(1.20)
Keterangan :
? = konstanta
?Ln S = First Difference dari logaritma tabungan nasional
?LnGNDI = First Difference dari logaritma Gross National Disposable Income
?LnR = First Difference dari tingkat suku bunga
?LnP = First Difference dari tingkat inflasi
= Error-correction term lagged one period
D = dummy variable, D = 0, untuk periode sebelum krisis ekonomi (1984-1997)
D = 1, untuk periode setelah krisis ekonomi (1998-2003)
?1, ?2, ?3, ?4 = koefisien regresi
? = error term
t menunjukan waktu
Fungsi investasi swasta
?Ln I = ?+ ?1 ?LnYt + ?2 ?LnPt + ?3 ?LnRt + ?4 ?LnGIYt + ?5 ECTt-1 +?6 D+ ?t ………………………………………………………..……………………….(1.21)
Keterangan :
?Ln I = First Difference dari logaritma investasi
?LnY = First Difference dari logaritma pendapatan nasional
?LnP = First Difference dari tingkat inflasi
?LnR = First Difference dari tingkat suku bunga
?LnGIY = First Difference dari logaritma rasio investasi pemerintah terhadap PDB
?ECTt-1 = Error-correction term lagged one period
D = dummy variable, D = 0, untuk periode sebelum krisis ekonomi (1984-1997)
D = 1, untuk periode setelah krisis ekonomi (1998-2003)
?1, ?2 ,?3, ?4, ?5 = koefisien regresi
? = error term
t menunjukan waktu
1.6.4 Pengujian Statistik
1.6.4.1 Uji Akar Unit (Unit Root Test)
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya anggapan stasioneritas pada persamaan yang sedang diestimasi. Untuk diketahui adanya unit roots dilakukan pengujian Dickey-Fuller (DF-test) sebagai berikut :
Misal variabel Yt sebagai variabel tidak bebas, maka akan diubah menjadi
Yt = ? Yt-1 + Ut ..................................................................................(1.22)
Jika koefisien Yt-1 (?) adalah = 1 dalam arti hipotesis diterima, maka variabel mengandung unit root dan bersifat non-stasioner. Untuk mengubah trend yang bersifat non-stasioner menjadi stasioner dilakukan uji orde pertama (first difference)
?Yt = (?-1) (Yt - Yt-1 .........................................................................(1.23)
Koefisien ? akan bernilai 0, dan hipotesis akan ditolak sehingga model menjadi stasioner.
Kesimpulan hipotesis DF-test :
Ho : ? = 0 (Terdapat unit roots, variabel Y tidak stasioner)
H1 : ? ? 0 (Tidak terdapat unit roots, variabel Y stasioner)
Kesimpulan hasil root test diperoleh dengan membandingkan nilai t-hitung dengan t-tabel pada tabel Dickey-Fuller.
1.6.4.2 Uji Kointegrasi
Uji kointegrasi bertujuan untuk mengetahui bagaimana variabel-variabel independen mempengaruhi variabel dependennya pada jangka panjang. Yang dimaksud jangka panjang dalam pendekatan kointegrasi adalah jangka waktu dimana pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependennya tidak bersifat seketika, melainkan membutuhkan selang waktu, dan merupakan suatu kondisi dimana masing-masing variabel memungkinkan untuk mengadakan penyesuaian secara penuh terhadap perubahan-perubahan yang timbul (atau tidak ada kecenderungan untuk naik atau turun, dan variabel tersebut berada dalam kondisi optimumnya).
Model kointegrasi juga merupakan model yang biasa digunakan untuk menganalisis apakah trend dari nilai variabel tak bebas bergerak dengan arah yang sama dengan trend variabel bebasnya, sehingga tecapai keseimbangan jangka panjang atau justru sebaliknya. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam uji ini :
Estimasi tiap parameter dari persamaan regresi dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS), misalnya :
Yt = ?0 + ?1Xt1 + ?2Xt2 + Ut ..........................................................................(1.24)
Uji stasioner terhadap nilai residual dari hasil estimasi diatas lalu estimasi kembali
Ut = Ut-1 + ?t ...................................................................................................(1.25)
?Ût = ?0Ut-1 + ?1Ut-2 ......................................................................................(1.26)
Setelah t-hitung diperoleh, maka hasilnya dibandingkan dengan t-tabel (uji-t). Jika nilai t hitung lebih besar dari t-tabel maka variabel bersifat stasioner.
Regresi persamaan, proses ini dilakukan untuk melihat signifikansi hubungan antara variabel pada tingkat kepercayaan tertentu.
Hipotesis ini didasarkan oleh hasil regresi pada error term berikut ini :
Ut = ?Ut-1 + ?t .........................................................................(1.27)
Kesimpulan hipotesis uji kointegrasi :
Ho : ? = 0 (Variabel-variabel tidak terkointegrasi)
H1 : ? ? 0 (Variabel-variabel terkointegrasi)
1.6.4.3 Penaksiran Koefisien Determinasi
Uji ini digunakan untuk mengukur kedekatan hubungan dari model yang dipakai. Koefisien determinasi (R2) yaitu angka yang menunjukan besarnya kemampuan varians atau penyebaran dari variabel-variabel bebas yang menerangkan variabel tidak bebas atau angka yang menunjukan seberapa besar variabel tidak bebas dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya.
Besarnya nilai koefisien determinasi adalah antara 0 hingga 1 (0 t-Stat > t- Tabel
Satu arah (kiri) ? ? 0 ? < t-Stat < t- Tabel
Dua Arah ? = 0 ? ? 0 -t-Stat < t- Tabel< t-Stat
1.6.4.5 Uji F- Statistik
Pengujian ini digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh dari semua variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel tidak bebasnya. Disamping menguji berarti tidaknya variabel-variabel bebas secara bersamaan, uji F juga sekaligus menguji koefisien determinasinya (R2). Dengan demikian hasil uji F yang signifikan akan menyebabkan nilai R2 yang diperoleh secara statistik tidak sama dengan nol.
Hipotesa yang digunakan adalah :
Ho : b1 =0; b2 =0; bi = 0
H1 : b1 =0; b2 =0; bi ¹ 0 dengan i = 1,2,..,n.
Hasil pengujian akan menunjukan :
Apabila nilai F-hitung > F- tabel, maka Ho ditolak ; artinya setiap variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.
Apabila nilai F-hitung < F- tabel, maka Ho tidak diterima ; artinya setidaknya satu dari variabel bebas berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.
Degree of freedomnya :
Df untuk pembilang, N1 = k – 1, k adalah banyaknya parameter.
Df untuk penyebut, N2 = n – k , n adalah banyaknya observasi.
1.6.4.6 Pengujian Masalah dalam Regresi Linear
Masalah Multikolinier
Multikolinier menunjukan gejala adanya hubungan linier atau hubungan yang pasti diantara explanatory variable (variabel penjelas) dalam model regresi. Gejala ditunjukan oleh beberapa faktor, namun yang paling mendukung penjelasan adanya multikolinier dalam model yaitu apabila nilai R2 dari hasil regresi sangat tinggi namun sebagian besar eksplanatori variabel tidak menjelaskan hubungan yang signifikan terhadap variabel yang dijelaskan, melalui perbandingan antara nilai t-stat dan F-stat dengan t-tabel dan F-tabel.
Masalah Serial Korelasi
Masalah korelasi dalam model menunjukan adanya hubungan korelasi antara variabel gangguan (error term) dalam suatu model yang terjadi karena beberapa faktor :
1. Inersia, data observasi dimulai dari situasi kelesuan ekonomi sehingga data time series selanjutnya dipengaruhi oleh data sebelumnya walaupun perekonomian sudah membaik.
2. Mengeluarkan atau tidak memasukan variabel bebas tertentu yang sebenarnya turut mempengaruhi variabel tidak bebasnya menurut teori ekonomi, walaupun hasil perhitungan kuantitas tidak mendukungnya.
3. Bentuk model yang tidak tepat.
4. Penentuan data secara sistematis tidak tersedia untuk periode yang diharapkan. Uji yang dilakukan untuk mendeteksi gejala ini adalah uji Durbin-Watson dan Run-test.
Uji serial korelasi:
1. Durbin Watson
Ketentuan yang berlaku untuk melihat apakah suatu model mempunyai masalah korelasi berdasarkan pada bagan daerah kritis di halaman berikut ini.
Gambar 1.3 Pengujian Durbin Watson Model Regresi
Serial Daerah Daerah tidak ada Daerah S erial
Korelasi tak tentu serial korelasi tak tentu Korelasi
Positif Negatif
Keterangan : Ho : tidak ada auto korelasi positif
Ho* : tidak ada auto korelasi negatif
Tabel 1.2 Batas Kritis Pengujian Durbin – Watson statistik
Daerah Hasil
0 < D-W Stat < dL
dL < D-W Stat < dU
dU < D-W Stat < 4-dU
4-dU < D-W Stat < 4-dL
4-dL < D-W Stat < 4 Terdapat Autokorelasi positif
Ragu – ragu
Tidak terdapat Autokorelasi
Ragu – ragu
Terdapat Autokorelasi negatif
2. Run-Test
Uji ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya masalah serial korelasi dalam model, dengan melakukan perhitungan terhadap pergerakan (positif atau negarif) residual yang diperoleh dari selisih antara nilai aktual dari variabel dependen terhadap nilai estimasinya.
Setelah diperoleh data residual, maka ditentukan jumlah nilai residual yang positif (n1), nilai residual negatif (n2), jumlah runs atau perubahan nilai positif dan negatif residual (k) dan jumlah observasinya (n). Lalu ditentukan pula nilai rata-rata runs ? (k) dan variansnya (?k) melalui rumus :
...........................................................................................(1.28)
........................................................................(1.29)
........................................................................(1.30)
Penentuan ada atau tidaknya korelasi dalam model, ditentukan melalui batasan rentang :
? (k) – t-tabel ( n,-1; ?) S(k) ? k ? ? (k) + t-tabel ( n,-1; ?) S(k)
Pada tingkat kepercayaan tertentu akan dilihat apakah (k) berada dalam rentang batas interval tersebut diatas yang menunjukan bahwa model tidak mengandung masalah serial korelasi, atau sebaliknya yang menunjukan bahwa model mengandung masalah serial korelasi.
Perlu dicatat bahwa apabila model mengandung masalah serial korelasi, maka model harus diperbaiki melalui perbaikan regresi, karena apabila terjadi korelasi diantara anggota series dari observasi maka asumsi classical linear regresion tidak terpenuhi. Keseluruhan uji ekonometrik menggunakan Eviews sofware (Eviews 3.0) .

ANALISIS KAUSALITAS TINGKAT SUKU BUNGA SBI DENGAN KURS DI INDONESIA TAHUN 1998.1 – 2003.12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada pertengahan tahun 1997 Indonesia mengalaml krisis ekonomi yang terus berkelanjutan. Pada diakhir 1997, suku bunga untuk jangka waktu bulanan di Bank umum tercatat 23%, nilai ini naik sekitar 36% dibandingkan tahun sebelumnya, kelangkaan dana yang dimiliki dunia perbankan memicu terjadinya "Perang" suku bunga antar bank, untuk mengatasi hal itu perbanas, organisasi bank-bank nasional, mengajukan tiga usul kepada Bank Indonesia. Pertama: Suku bunga di biarkan bebas berdasakan mekanisme pasar, Kedua: mengacu pada jibor, Ketiga berdasarkan patokan suku bunga sertifikat bank Indonesia (SBI), usulan terakhir yang akhirnya disetujui Bank Indonesia. Pada tahun 1998 suku bunga SBI mencapai puncaknya 70,7% namun masa keemasan buat para deposan berakhir berangsur-angsur, sejalan dengan penurunan SBI oleh Bank Indonesia (Jullanery, 2002). Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) hasil lelang pada awal Januari tahun 2004 sudah berada pada tingkat 7,48% untuk SBI yang berjangka satu bulan diperkirakan baliwa angka 7% untuk rata-rata tertimbang tingkat diskonto (suku bunga) pun bisa pecah tahun ini. Pada akhir bulan Januari 2004, lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) memunculkan suatu kejutan baru. Suku bunga SBI mengalami penurunan yang cukup tajam, sebesar 20 basis poln, yaitu dari 8,06% menjadi 7,86%. Penurunan yang tajam tersebut memang merupakan hasil interaksi antara, likuiditas pasar yang berlebih dengan arah penetapan terlihat nyata. dari persentase permintaan lelang yang diambil, yaitu hanya 77%. Ini berarti, jika persentase yang diambil Bank Indonesia lebih besar, penurunan bunganya pun juga akan lebih besar. Karena, itu pencapaian suku bunga SBI sebesar 7,86% tersebut tampaknya sudah merupakan hasil yang cukup optimal. Namun dalam jangka yang lebih panjang suku. bunga SBI tetap akan banyak dipengaruhi oleh persepsi pemilik dana, baik yang berasal dalam negeri maupun luar negeri. Bagi pemilik dana, dalam negeri tingkat suku bunga tersebut akan mereka bandingkan dengan tingkat inflasi. Jika suku bunga nominal bersih lebih rendah dan tingkat inflasi, mereka akan menenima suku bunga riil yang negatif Sementara itu, bagi pemilik dana dari luar negeri, penerimaan tersebut akan mereka ukur dalani mata uang asal dan inflasi dinegara mereka. Dari kedua sumber dana tersebut, yang tampak mendekati titik kritis adalah sumber dana dari dalam negeri (Harinowo, 2004).
Masa kritis 100 hari kabinet Indonesia bersatu telah berlalu, tak ada prestasi signifikan yang bisa dibanggakan. Namun, harapan terbentuknya Indonesia baru yang bersatu dan maju, tetap bertumpu di pundak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rupiah membenikan sambutan positif saat presiden pertama di Indonesia yang dipilih secara langsung itu dilantik. Kurs rupiah menguat sehingga di bawah Rp. 9.000,-/US$, tapi apreslasi itu bersifat sementara. Im kurs rupiah susah sepertinya berangsur dari kisaran Rp. 9.300,/US$ dalam situasi seperti itu sudah seharusnya mulai pasang kuda-kuda bila trend itu terus berlanjut, atau malah menjurus pada depresiasi, apabila Bank Central Amerika Federal Reserve (The Fed) yang pada Februari lalu yang telah menaikkan suku bunganya menjadi 2,5%, memberl isyarat akan menaikkan bunganya lagi hingga 3,5 -4%. Kenaikkan ini akan berdampak pada suku bunga di banyak negara termasuk Indonesia. Suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) akan melonjak untuk menahan kelemahan kurs rupiah lebih lanjut. Kebijakan BI bertujuan untuk mengerem peredaran rupiah, sehingga tidak dipermainkan speiculan. Kalau kita certnati lagi masih ada satu alternatif kebijakan lagi untuk menguatkan kurs rupiah. Yaitu meningkatkan suku bunga SBI sehingga rupiah kemball diburu dan kernudian mengalami apresiasi, namun kebijakan itu kurang popular karena bisa melumpuhkan sektor riil. Kebijakan ini baru akan efektif bila. ada koordinasi dengan kebijakan fiskal (Media Indonesia, 2005). Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk menganalisis dan melakukan penelitian tentang "ANALISIS KAUSALITAS TINGKAT SUKU BUNGA SBI DENGAN KURS DI INDONESIA TAHUN 2000 - 2005)

B.perumusan Masalah

Bagaimana pola kausalitas antara suku bunga SBI dengan kurs maka diangkat permasalahan apakah suku bunga SBI mempengaruhi kurs atau kurs mempengaruhi suku bunga SBI ataukah suku bunga SBI dan kurs saling mempengaruhi.

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pola kausalitas antara tingkat suku bunga SBI dengan kurs selama periode 1998.1 sampai 2003.12.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menambah pengetahuan bagi penulis tentang kausalitas antara tingkat suku bunga SBI dengan kurs.
2. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan masukan dan perbandingan untuk penelitian sejenis.
3. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi data-data bagi penelitian selanjutnya.

E. Metode Penelitian

1. Alat analisis
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji kausalitas Error Correction Model (ECM). Kausalitas Error Correction Model (ECM) digunakan untuk menguji arah hubungan timbal-balik antara dua variabel secara empirik. Dalam hal ini variabel-van'abel yang digunakan adalah tingkat suku bunga SBI dengan kurs. Kausalitas Error Correction Model (ECM) menggunakan data urut waktu (time series), antara lain tingkat suku bunga SBI
dan kurs mulai tahun 1998.1 sampai 2003.12 yang diterbitkan oleh biro Pusat Statistik dan Bank Indonesia.
Uji kausalitas Error Correction Model pada penelitian ini diformulasikan dengan persarnaan regresi sebagai berikut:

DVA = o SBIt-1 + 1 DSBIt-1 + 2 ECT1
DSBI = o VAt-1 + 1 DVAt-1 + 2 ECT2

Dimana :

D (X) = Xt – Xt-1
SBI = Suku Bunga SBI
VA = Valas
,  = Koefisien masing-masing variabel


(1) ECT1 = SBIt-1 – VAt-1 (Nilai kesalahan perubahan lag variabel model 1)
(2) ECT2 = VAt-1 – SBIt-1 (Nilai kesalahan perubahan lag variabel model 2)
Diasumsikan bahwa gangguan Vt1 dan Vt2 tidak berkorelasi
2. Sumber dan Jenis Data
Jenis data yang digunakan adalah sekunder, yang meliputi suku. Bunga SBI dan kurs, dalani kurun waktu (time series) dari tahun 1998.1-2003.12. Adapun sumber data diperoleh dari Kantor Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia serta buku-buku. atau literature lain yang relevan dengan penelitian.

F. Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan
Bab ini membahas latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan skripsi
Bab II Landasan Teori
Bab ini membahas teori bunga, teori permintaan valuta asing, kebijakan open market (kebijakan moneter BI), hubungan kurs dengan tingkat suku bunga, penelitian terdahulu, hipotesa.
Bab III Metode Penelitian
Bab ini membahas obyek penelitian, jenis dan sumber data, definisi operasional variabel dan metode analisis data.
Bab IV Analisis Data
Bab ini membahas perkembangan tingkat suku bunga SBI dan kurs hasil Uji stasioneritas, UJI kointegrasi, Uji derajat integrasi, Uji kausalitas Error Correction Model, dan UJI asumsi klasik
Bab V Penutup
Bab ini membahas kesimpulan dan saran

BAB II

LANDASAN TEORI



A. PERMINTAAN VALUTA ASING

Permintaan dalam ilmu ekonomi adalah kombinasi harga dan jumlah suatu barang yang ingin dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga untuk suatu periode tertentu. Permintaan suatu barang sangat dipengaruhi oleh pendapatan dan harga barang tersebut, sebab apabila harga barang naik sedangkan pendapatan tidak berubah maka permintaan akan barang tersebut turun atau berkurang, demikian pula sebaliknya harga barang turun, sedangkan jika pendapatan tidak berubah maka permintaan barang akan mengalami kenaikan atau bertambah (Soekirno, 1985). Valuta asing disebut juga foreign exchange (forex) atau foreign currency adalah mata uang asing atau alat pembayaran lainnya yang digunakan dalam transaksi ekonomi internasional berdasarkan kurs resmi yang ditetapkan oleh bank sentral (Khalwaty, 2000). Menurut Salvatore (1997) valuta asing merupakan arti penting uang secara eksplisit yang dimasukan ke dalam perhitungan, sehingga harga-harga komoditi dinyatakan dalam satuan mata uang domestik dan mata uang luar negeri. Mata uang dalam valuta asing dibedakan menjadi dua kelompok mata uang, yaitu:
1. Hard currency adalah mata uang yang mempunyai nilai relatif stabil, tidak sering mengalami apresiasi (kenaikkan nilai) atau depresiasi (penurunan nilai) jika dibandingkan dengan mata uang negara lain. Hard currency merupakan mata uang yang dipilih dan digunakan sebagai alat pembayaran dan satuan hitung dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. Yang termasuk hard currency adalah mata uang dari negara-negara industri maju seperti Dollar Amerika Serikat (USD), Yen Jepang (JPY), Poundsterling Inggris (GPB).
2. Soft currency adalah mata uang lemah yang kurang laku atau jarang digunakan sebagai alat pembayaran atau satuan hitung dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional karena nilainya relatif kurang stabil serta sering terdeprisiasi jika dibandingkan dengan mata uang negara lain. Soft currency umumnya terdiri dari mata uang negara-negara yang sedang berkembang yang sifatnya sangat sensitif terhadap gejolak politik, perubahan kebijakan ekonomi dan moneter pemerintah negara bersangkutan termasuk terhadap perubahan-perubahan sosial ekonomi internasional. Nilai tukar valuta asing (kurs) adalah harga uang asing dalam satuan mata uang domestik (Samoelson, 1995: 450). Perdagangan antara negara dimana masing-masing mempunyai alat tukarnya sendiri mengharuskan adanya angka perbandingan nilai suatu mata uang dengan mata uang lainnya, yang disebut nilai tukar valuta asing (Boediono, 1981).
Disamping berperan dalam perdagangan internasional, kurs juga berperan dalam perdagangan valuta asing pada suatu negara atau antar negara sebab valuta asing juga merupakan komoditi yang dapat diperdagangkan. Bagi negara yang kurang kuat nilai mata uangnya maka valuta asing merupakan alternatif investasi bagi masyarakat di negara tersebut Permintaan dan penawaran valuta asing terjadi karena ada transaksi ekspor dan impor baik modal, barang maupun jasa. Semakin besar volume ekspor dan impor akan semakin besar pula jumlah valuta asing yang dibutuhkan serta akan semakin banyak pula jenis valuta asing yang dibutuhkan sesuai dengan banyaknya negara yang menjadi mitra transaksi.
Permintaan suatu negara terhadap valuta asing bersumber pada impor barang atau jasa dan terjadinya ekspor modal (capital export) dan transfer valuta asing untuk berbagai kepentingan lainnya dari dalam negeri ke luar negeri. Untuk pembayaran barang dan jasa yang impor, importir memerlukan valuta asing. Semakin banyak barang atau jasa yang diimpor akan semakin banyak pula suatu negara membutuhkan valuta asing. Akibatnya, kurs valuta asing akan meningkat jika dibandingkan dengan uang lokal. Sebaliknya, semakin banyak suatu negara melakukan ekspor modal dan transfer valuta asing untuk be rbagai kepentingan di luar negeri, ini akan meningkatkan kurs valuta asing jika dibandingkan dengan uang lokal atau domestik (Khalwaty, 2000).
Sumber-sumber permintaan valuta asing dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Para importir barang dan jasa
2. Para investor yang memerlukan valuta asing untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban luar negerinya yang timbul dari transaksi-transaksi pembelian surat-surat berharga dari penduduk negara lain atau transaksi pemberian pinjaman kepada penduduk negara lain.
3. Para debitur dalam negeri yang memerlukan valuta asing untuk melunasi kewajiban-kewajiban luar negerinya yang telah jatuh tempo atau untuk membayar bunga pinjaman luar negerinya.
4. Wisatawan-wisatawan dalam negeri yang akan melawat ke luar negeri.
5. Perusahaan-perusahaan asing yang harus membayar deviden yang dibagikan kepada para pemegang saham di luar negeri. 6. Rumah-rumah tangga keluarga yang membutuhkan valuta asing untuk membiayai studi anggota keluarganya yang belajar di luar negeri.
7. Pemerintah yang membutuhkan valuta asing untuk membiayai perwakilan-perwakilannya di luar negeri, untuk menyelesaikan hutang-hutang luar negerinya yang telah jatuh tempo.
8. Para spekulan yang misalnya saja meramalkan akan adanya tindakan kebijakan devaluasi, mempunyai tendensi untuk berlomba -lomba membeli valuta asing.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang merupakan sumber permintaan valuta asing adalah semua transaksi luar negeri otonom debit. Sedangkan semua transaksi luar negeri otonom kredit merupakan sumber penawaran valuta asing (Soediyono, 1991).

B. SUKU BUNGA DAN PERMINTAAN VALUTA ASING
Pemahaman tentang teori dan teknik pengujian tentang pengaruh inflasi dan suku bunga terhadap perubahan permintaan valuta asing sangat penting bagi para pelaku di bursa valas agar dapat menghasilkan proyeksi kurs yang akurat, tidak menyimpang jauh dari kenyataan. Teori dan studi empiris yang menjelaskan tentang bagaimana permintaan valas bereaksi terhadap perubahan tingkat inflasi dan suku bunga, terdapat tiga macam teori paritas (teori keseimbangan), yaitu Teori Paritas Suku Bunga (Interest Rate Pariety Theory = IRP Theory), Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Pariety Theory = PPP Theory), Teori Efek Fisher Internasional (International Fisher Efect Theory). Ketiga macam teori tersebut menunjukkan adanya hubungan yang berbeda tentang perubahan tingkat inflasi dan suku bunga terhadap reaksi perubahan permintaan valas. Dengan adanya hubungan yang berbeda tersebut, terlihat adanya pertentangan antara ketiga teori tersebut yang dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan. Masing-masing teori mempunyai keunggulan dan kelemahan yang apabila digunakan secara bersama-sama akan memperluas wawasan dalam mengkombinasikannya dari segi positif. Dengan melihat keunggulannya akan dapat menghasilkan suatu proyeksi yang paling cermat dengan tingkat resiko yang paling kecil (Khalwaty, 2000).
1. Interest Rate Pariety Theory
Dengan menggunakan teori paritas suku bunga dapat diketahui hubungan antara bursa valas dan pasar uang internasional Interest Rate Pariety Theory (IRPT) paling banyak digunakan dalam literatur keuangan internasional yang menyatakan bahwa perbedaan tingkat suku bunga pada pasar keuangan internasional mempunyai kecenderungan yang sama dengan forward rate premium atau forward rate discount. IRPT menekankan pada perbedaan antara kurs forward dan kurs spot yang tercermin dari perbedaan tingkat suku bunga antara dua negara. Kurs forward mata uang suatu negara yang mengandung premi ditentukan oleh perbedaan tingkat suku bunga antar negara. Akibatnya arbitrase suku bunga yang ditutup akan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan suku bunga domestik. Variabel yang digunakan pada IRPT adalah premi forward dan perbedaan suku bunga antar dua negara (Khalwaty, 2000). Untuk mengetahui hubungan antara foreign country premium (fr premium) dan forward rate discount dari suatu valas dan tingkat suku bunga di pasar uang dapat digunakan rumus :
An=Ah/SR(1+if)FR
Keterangan :
An = Amount, yaitu jumlah uang dalam negeri yang akan diterima pada akhir suatu periode investasi.
Ah = Amount, yaitu jumlah uang dalam negeri yang diinvestasikan dalam periode tertentu.
If = Interest Rate, yaitu tingkat suku bunga deposito di luar negeri.
Sr = Spot Rate.
FR = Forward Rate.

2. Purchasing Power Parity Theory
Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory = PPPT) digunakan untuk menganalisa pengaruh inflasi antara dua negara terhadap kurs valas. PPPT disebut juga Teori Paritas Daya Beli, Teori Keseimbangan Daya Beli atau Teori Kesamaan Daya Beli yang di ciptakan oleh Gustav Cassel setelah Perang Dunia II. Variable-variabe yang digunakan dalam PPPT adalah perubahan kurs spot dalam persentase dan perbedaan laju inflasi antar dua -negara. Menurut PPPT, kurs spot suatu valas akan berubah sebagai reaksi terhadap inflasi antara dua negara yang mengakibatkan daya beli seseorang ketika dia belanja di negara sendiri akan sama dengan mereka belanja di luar negeri. Kurs valas cenderung mengalami perubahan kearah rasio daya beli antara dua mata uang dalam jangka panjang (Khalwaty, 2000).
3. International Fisher Effect Theory
IRPT memfokuskan pembahasannya pada penyebab terjadinya perbedaan antara kurs forward dengan kurs spot yang dapat mencerminkan perbedaan antara tingkat suku bunga antara dua negara dalam suatu periode tertentu. Sedangkan pada PPPT dan International Fisher Effect Theory (IFET) memfokuskan pembahasannya pada bagian kurs spot berubah sepanjang waktu. International Fisher Effect Theory memprediksikan bahwa kurs spot bergerak mengikuti perbedaan suku bunga antar negara. Dengan demikian terdapat hubungan antara International Fisher Effect Theory dengan PPPT, karena perbedaan tingkat suku bunga antar dua negara dipengaruhi oleh perbedaan tingkat inflasi antar negara (Khalwaty, 2000).
a. Effect Theory
Analisis IFET menggunakan variable -variabel dasar persentase perubahan kurs spot dan perubahan suku bunga antar dua negara. IFET berdasar pada teori Irving Fisher yang menyatakan bahwa tingkat bunga mominal (i) di setiap negara akan sama dengan Real Rate Return (r) di tambah dengan tingkat inflasi yang diharapkan (I). Secara formulatif, teori Irving Fisher adalah :

i = r + Inflasi

Teori Effek Fisher menjelaskan bahwa tingkat suku bunga pada dua negara yang berbeda akan terjadi akibat adanya perbedaan tingkat inflasi yang diharapkan. IFET didasarkan pada teori effek Fisher yang pada prinsipnya mirip dengan IRPT, karena menggunakan perbedaan tingkat suku bunga dalam menjelaskan sebab-sebab terjadinya perubahan kurs valas. Jadi perbedaan tingkat suku bunga yang terjadi antara beberapa negara baik menurut PPPT maupun International Fisher Effect Theory antara lain disebabkan oleh perbedaan tingkat inflasi (Khalwaty, 2000).
b. Kelemahan IFET
IFET sebenarnya memliki beberapa kalemahan yang harus dicermati saat kita memprediksikan fluktuasi kurs yang disebabkan pengaruh inflasi dan suku bunga antar-dua negara. Kelemahan IFET antara lain (Khalwaty, 2000) :
1) Hasil perhitungan kurs valas tidak selalu tepat dan validitasnya tidak selalu dapat dibuktikan karena inflasi mempengaruhi perubahan valas. Akibatnya perubahan kurs tidak selalu sama dengan perubahan tingkat inflasi.
2) Selain pengaruh inflasi yang dominan terhadap fluktuasi kurs valas, harus dicermati pula pengaruh dari kontrol otoritas moneter, posisi neraca pembayaran, pertumbuhan ekonomi, tingkat suku bunga, produk domestik bruto, permintaan dan penawaran valas serta sentimen bursa valas yang tidak masuk dalam variabel perhitungan pada IFET.
3) Berdasarkan hasil uji empirik, perbedaan tingkat inflasi antara dua negara yang dijadikan variabel dalam memprediksi fluktuasi kurs valas pada IFET tidak selalu memberi hasil yang akurat. Penyebabnya tidak dimasukkannya variabel-valiabel lain yang turut berpengaruh seperti perbedaan tingkat suku bunga antar dua negara dan kebijakan ekonomi makro.
4. International Parity Condition
Menyadari kelemahan-kelemahan mendasar dari IRPT, PPPT dan IFET yang digunakan dalam memprediksi kurs valas sejak digunakan sistem kurs mengambang, para pakar terus berusaha mengatasi dari kelemahan teori tersebut.
Dengan menganalisis Parity Condition, investor yang menginginkan keuntungan jangka pendek harus melakukan investasi atau piutang dalam valas dengan tingkat bunga yang relatif tinggi dengan kecenderungan berapresiasi. Sebaliknya, jika ia meminjam atau berhutang valas hendaklah ia memilih tingkat bunga yang relatif rendah serta mempunyai kecemderungan akan terdepresiasi. Dengan Parity Condition Analisys akan diketahui sebab-sebab terjadinya kenaikan tingkat suku bunga. Dengan menaikkan tingkat suku bunga pemerintah dapat mengurangi JUB. Tingkat suku bunga kredit yang tinggi dapat digunakan untuk membayar biaya bunga. Tingkat inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah akan mendorong investasi dan selanjutnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional secara proposional (Khalwaty, 2000).

C. PERMINTAAN UANG KEYNESIAN
Keynes memiliki pandangan bahwa permintaan uang ditentukan oleh tiga tujuan yaitu (i) Untuk membiayai transaksi, (ii) untuk berjaga-jaga, dan (iii) untuk spekulasi. Dua tujuan yang utama ditentukan oleh tingkat pendapatan, sedangkan tujuan yang ketiga ditentukan oleh tingkat suku bunga, yang merupakan pendapatan yang diperoleh apabila uang yang tersedia untuk spekulasi dengan membungkan di bank atau membeli obligasi.

1. Permintaan Uang Untuk Transaksi
Baumol (1952) dan Tobin (1956) menjelaskan tendensi seseorang dalam menggunakan uang untuk tujuan transaksi dalam teorinya yang dikenal dengan An Inventory Theoretic Approach. Teori ini pada dasarnya menerangkan bahwa seseorang tidak akan mengunakan uang dalam bentuk tunai dan disimpan dirumah. Dia akan menyimpan uang di bank dan mengharapkan bunga dari simpanannya. Seringnya seseorang untuk pergi ke bank mengambil uangnya untuk membiayai transaksinya tergantung pada dua faktor yaitu : biaya untuk pergi ke bank dan bunga yang diperoleh dari menyimpan uang di bank.
2. Permintaan Uang Untuk Berjaga-jaga
Dalam jangka pendek dan jangka panjang seseorang perlu menyisihkan dana untuk berjaga -jaga. Dalam jangka panjang uang digunakan untuk membiayai hari tua dan biaya anak tidak akan disimpan dalam bentuk uang giral. Biasanya dana tersebut dalam bentuk investasi misalkan saham atau obligasi atau harta benda yang memiliki nilai lebih tinggi dimasa depan. Hal itu akan dilakukan untuk berjaga-jaga dalam jangka panjang.
Dalam jangka pendek fungsi uang untuk berjaga -jaga digunakan seseoarang dalam kondisi diluar biasanya. Misal seseorang yang naik berpergian dengan naik bis, dia akan membawa uang yang lebih tidak sekedar untuk perjalanan dan makan. Tetapi dia akan membawa uang yang lebih untuk berjaga-jaga jika ia kecopetan. Seperti halnya dalam mengunakan uang untuk transaksi, dana yang digunakan untuk berjaga-jaga ini akan selalu gigunakan secara efisien. Artinya orang akan rasional untuk mendapatan bunga dari uang yang tidak digunakan. Dengan demikian analisis An Inventory Theoretic Approach bisa diaplikasikan kepada cara pengunaan untuk kebutuhan berjaga-jaga.
3. Permintaan Uang Untuk Spekulasi
Seseorang akan selalu memikirkan memperoleh pendapatan dari kelebihan uang yang dimiliki. Hal tersebut memungkinkan seseorang untuk melakukan spekulasi. Dalam pandangan Keynes menjelaskan bahwa hubungan antara suku bunga dan permintaan uang akan bersifat negatif. Yaitu pada saat suku bunga tinggi permintaan uang semakin kecil dan pada saat suku bunga rendah permintaan uang semakin meningkat. Sifat yang demikian disebabkan oleh sifat permintaan uang untuk spekulasi yang sangat dipengaruhi oleh suku bunga. Keynes dalam analisisnya memisalkan perekonomian hanya terdiri dari dua bentuk asset keuangan yaitu uang tunai dan obligasi. Karena orang memiliki persepsi yang berbeda tentang suku bunga normal, maka individu akan menentukan suku bunga yang relatif. Dengan demikian setiap individu akan menggantikan uang yang dispekulasikan dengan obligasi. Atau sebaliknya. Namun secara umum dapat dikatakan semakin tinggi suku bunga semakin banyak investor yang membeli obligasi dengan mengunakan uang yang disisihkan untuk spekulasi. Seseorang akan membeli obligasi apabila suku bunga yang berlaku sama dengan suku bunga normal. Apabila suku bunga normal berbeda dengan suku bunga yang berlaku individu tersebut akan melihat jika lebih tinggi ia akan tetap memegang obligasi. Dengan anggapan pada saat suku bunga kembali normal harga obligasi akan naik. Dan sebaliknya jika lebih rendah ia akan segera menjual obligasinya karena ia akan mendapat keuntungan yang lebih cepat.

D. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VALUTA ASING
1. Supply Foreign Currency
Valas atau forex sebagai benda ekonomi mempunyai permintaan dan penawaran pada bursa valas atau forex market. Sumber-sumber penawaran atau supply valas tersebut terdiri atas: (a) Ekspor barang dan jasa yang menghasilkan valas atau forex.(b) Impor modal atau capital import dan transfer valas lainnya dari luar negeri ke dalam negeri. Sedangkan sumber-sumber permintaan atau demand valas tersebut terdiri
atas: (a) Ekspor modal atau capital export dan transfer valas lainnya dari dalam negeri ke luar negeri. (b) Impor barang dan jasa menggunakan valas atau forex Sesuai dengan teori mekanisme pasar, setiap perubahan permintaan dan penawaran valas yang terjadi di bursa valas tentu akan mengubah harga atau nilai valas atau forex rate -nya.
2. Posisi Balance of Payment (BOP)
Balance of Payment atau neraca pembayaran internasional adalah suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang semua transaksi ekonomi internasioanal yang meliputi perdagangan, keuangan, dan moneter antara penduduk suatu negara dan peduduk luar negeri untuk suatu periode tertentu, biasanya satu tahun.
3. Tingkat Bunga
Pengaruh tingkat bunga dapat dijelaskan berikut ini. Dengan adanya reunifikasi Jerman, pemerintah Jerman memerlukan dana yang cukup besar untuk membangun wilayah eks Jerman Timur. Karena permintaan dana yang besar tersebut, pemerintah Jerman menaikan tingkat bunganya untuk menarik modal luar negeri ke Jerman, terutama dari USA. Banyaknya valas dalam bentuk USD akan masuk ke Jerman akan menyebabkan peningkatan permintaan DEM dan penawaran USD sehingga kurs valas atau forex rateDEM/USDberubah dari DEM2.00/USD menjadi DEM1.90/USD.
4. Ekspektasi dan Spekulasi
Pada dasarnya, ekspektasi dan spekulasi yang timbul di masyarakat akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valas yang akhirnya akan mempengaruhi kurs valas atau forex rate. Demikian pula halnya dengan isu dan rumor, misalnya sakitnya Presiden atau Menteri Keuangan dapat mempengaruhi sentimen dan ekspektasi masyarakat sehingga mempengaruhi permintaan dan penawaran valas yang akan berakibat pada fluktuasi kurs valas. Salah satu contoh
kongkret adalah naiknya kurs USD, hingga mencapai sekitar Rp6.000/USD, karena adanya isu/rumor sekitar kesehatan Presiden pada bulan November/Desember 1997.

E. HASIL PENELITIAN SEBELUMNYA
1. Hidayati (2003) dalam penelitiannya tentang penagruh suku bunga terhadap perubahan suku bunga terhadap perubahan kurs selama krisis ekonomi 1997 di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah time series antara tahun 1997 – 2001 dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square) perhitungan regresi OLS menyebutkan bahwa selama penelitian perubahan suku bunga tidak mempengaruhi perubahan kurs hal ini disebabkan masyarakat Indonesia lebih cenderung konsumtif terhadap suatu bara ng sehingga tidak begitu memperhitungkan tingkat suku bunga.
2. Jalu (2004) dalam penelitiannya mengenai analisis penagruh faktor yang mempengaruhi permintaan valuta asing di Indonesia Pasca krisis ekonomi 1999 – 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ECM (Error Correction Model), hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan valuta asing di Indonesia. Pasca krisis ekonomi banyak dipengaruhi oleh besarnya tingkat impor barang baik perubahannya maupun periode sebelumnya. Ebsarnya koefisien pengaruh secara berurutan 0,348 dan 0,571 selain itu perubahan suku bunga deposito juga mempengaruhi permintaan valuta asing dengan nilai koefisien sebesar –024. bersadarkan pengujian asumsi klasik model tidak terdapat heteroskedastisitas dan autokorelasi serta modelnya normal.

F. HIPOTESIS
Dalam suatu penelitian, hipotesis atau jawaban sementara merupakan sarana penelitian yang penting dan tidak dapat ditinggalkan. Dari hipotesis tersebut nantinya akan melewati uji kebenaran untuk mempertegas atau menolak hipotesis tersebut secara empiris. Adapun hipotesis yang ingin diuji dalam penelitian ini adalah : Diduga terjadi hubungan kausalitas dua arah antara tingkat suku bunga SBI dan kurs rupiah per dolar. WISS KEMENG SING NULIS